FintalkUpdate News

Riset UI: Uang Pecahan Kecil Mulai Tergusur QRIS dan E-Wallet, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Riset LPEM FEB UI mengungkap penggunaan uang pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 semakin tergeser oleh QRIS dan dompet digital

Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi terus berubah. Riset terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan penggunaan uang tunai, khususnya pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000, semakin tergerus oleh pembayaran digital seperti QRIS dan dompet elektronik (e-wallet). Temuan ini mencerminkan percepatan transformasi menuju masyarakat yang semakin mengandalkan transaksi nontunai.

Penelitian tersebut menemukan bahwa peningkatan penggunaan uang elektronik berkorelasi langsung dengan menurunnya permintaan uang tunai. Bahkan, setiap kenaikan 1 persen transaksi uang elektronik berkaitan dengan penurunan permintaan uang kartal dalam jumlah yang hampir sebanding.

Lalu, apa dampaknya bagi masyarakat?

Transaksi Menjadi Lebih Cepat dan Praktis

Dampak yang paling dirasakan adalah kemudahan dalam bertransaksi. Masyarakat tidak lagi harus menyediakan uang pas atau menunggu uang kembalian saat berbelanja.

Cukup dengan memindai kode QRIS menggunakan aplikasi perbankan atau dompet digital, pembayaran dapat dilakukan dalam hitungan detik. Bagi pelaku usaha mikro, penggunaan QRIS juga mengurangi risiko menyimpan uang tunai dalam jumlah besar.

Selain itu, seluruh transaksi tercatat secara otomatis sehingga lebih mudah dipantau, baik oleh konsumen maupun pelaku usaha.

Pengeluaran Lebih Mudah Dikendalikan

Transaksi digital memungkinkan masyarakat melihat riwayat pembayaran secara real time.

Fitur ini membantu pengguna menyusun anggaran bulanan, memantau pengeluaran, hingga mengurangi risiko kehilangan uang tunai. Banyak aplikasi dompet digital bahkan telah dilengkapi fitur analisis pengeluaran berdasarkan kategori belanja.

Namun, Ada Risiko Pengeluaran Lebih Boros

Di balik kemudahan tersebut, pembayaran digital juga memiliki sisi negatif.

Read More  Manfaat Kolang Kaling untuk Kesehatan, Tak Sekadar Pelengkap Takjil saat Berbuka Puasa

Karena tidak melihat uang berpindah secara fisik, sebagian orang cenderung lebih mudah melakukan pembelian impulsif. Promo cashback, gratis ongkos kirim, hingga diskon yang terus bermunculan juga dapat mendorong masyarakat berbelanja di luar kebutuhan.

Akibatnya, disiplin mengelola keuangan menjadi semakin penting di era pembayaran digital.

Kelompok Tertentu Berpotensi Tertinggal

Tidak semua masyarakat menikmati manfaat digitalisasi dengan tingkat yang sama.

Lansia, masyarakat di daerah dengan akses internet terbatas, maupun mereka yang belum memiliki rekening bank atau telepon pintar masih sangat bergantung pada uang tunai.

Jika penggunaan uang tunai terus menurun tanpa diimbangi peningkatan literasi dan inklusi keuangan, kelompok tersebut berpotensi mengalami kesulitan dalam bertransaksi sehari-hari.

UMKM Harus Beradaptasi

Bagi pelaku UMKM, tren ini menjadi tantangan sekaligus peluang.

Pedagang yang telah menerima pembayaran QRIS berpotensi memperoleh pelanggan lebih banyak karena semakin banyak konsumen memilih transaksi non-tunai. Sebaliknya, usaha yang masih hanya menerima uang tunai berisiko kehilangan sebagian pembeli, terutama dari kalangan muda yang semakin jarang membawa uang tunai.

Di sisi lain, pencatatan transaksi digital juga memudahkan pelaku usaha menyusun laporan keuangan dan membuka akses terhadap pembiayaan formal.

Uang Tunai Belum Akan Hilang

Meski penggunaan uang pecahan kecil terus menurun, bukan berarti uang tunai akan sepenuhnya ditinggalkan.

Uang tunai masih dibutuhkan untuk transaksi di wilayah yang belum memiliki akses internet memadai, saat terjadi gangguan sistem pembayaran digital, maupun dalam kondisi darurat.

Karena itu, para peneliti menilai transformasi menuju masyarakat tanpa uang tunai (cashless society) akan berlangsung secara bertahap, bukan terjadi dalam waktu singkat.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya memperluas penggunaan QRIS dan e-wallet, tetapi juga memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati manfaat digitalisasi tanpa menimbulkan kesenjangan akses maupun literasi keuangan.

Back to top button