DLH DKI Jakarta Latih Pendamping Bank Sampah, Dorong 840 RW Aktif Kurangi Timbunan Sampah
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melatih pendamping bank sampah di tingkat RW untuk memperkuat peran masyarakat dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Program pelatihan ini ditujukan untuk mengaktifkan 840 RW di seluruh wilayah Jakarta agar memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri melalui bank sampah. DLH DKI Jakarta menilai, pelibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan bahwa pendamping bank sampah akan dibekali pemahaman teknis dan sosial untuk menggerakkan warga memilah sampah sejak dari rumah. âKami ingin setiap RW mampu mengelola sampah organik dan anorganik secara mandiri, sehingga bisa menekan beban TPA Bantar Gebang,â ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).
Menurut Asep, keberadaan pendamping di tingkat RW sangat penting agar masyarakat memahami nilai ekonomi sampah dan tidak lagi menganggapnya sekadar limbah. Selain mengurangi pencemaran, kegiatan bank sampah juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Sementara itu, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Dwi Retno, menjelaskan bahwa timbunan sampah yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menjadi sumber berbagai penyakit. Sampah organik yang membusuk dapat menarik vektor penyakit seperti lalat dan tikus, sementara limbah plastik dan bahan kimia rumah tangga dapat mencemari air tanah.
âDampaknya bisa langsung ke kesehatan masyarakat, mulai dari diare, infeksi kulit, hingga gangguan pernapasan akibat pembakaran sampah di lingkungan padat penduduk,â kata Dwi.
Program pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran lingkungan sekaligus mempercepat target pengurangan sampah Jakarta sebesar 30 persen pada 2027. DLH juga mendorong kolaborasi antara RW, kader lingkungan, dan pelaku usaha daur ulang agar pengelolaan sampah lebih efisien.
Melalui sistem bank sampah yang aktif, Jakarta diharapkan dapat bertransformasi menjadi kota yang lebih bersih dan sehat, dengan masyarakat yang semakin peduli terhadap lingkungan sekitarnya.





