Modus Baru Penipuan Investasi Kian Marak, Bermula dari “Salah Sambung” di WhatsApp
Modus baru penipuan investasi kini semakin berbahaya karena memanfaatkan chat “salah sambung” di WhatsApp untuk membangun kepercayaan sebelum menguras uang korban.
Kasus penipuan investasi kembali marak dengan pola yang semakin halus dan sulit dikenali. Jika dulu pelaku menawarkan keuntungan besar secara terang-terangan, kini modus baru penipuan investasi justru dimulai dari percakapan sederhana yang tampak tidak berbahaya.
Peristiwa yang menimpa warga Purworejo, Jawa Tengah, menjadi contoh nyata bagaimana modus baru penipuan investasi bekerja secara sistematis. Korban mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah setelah diajak berkenalan melalui pesan WhatsApp yang mengaku “salah sambung”.
Awalnya, percakapan terlihat biasa. Pelaku mengirim pesan sopan seolah salah menghubungi nomor. Namun dari interaksi sederhana itu, pelaku mulai membangun kedekatan emosional dengan korban. Setelah korban merasa nyaman, percakapan perlahan diarahkan ke tawaran investasi dengan iming-iming keuntungan besar.
Modus baru penipuan investasi seperti ini dinilai lebih berbahaya karena tidak langsung meminta uang. Pelaku terlebih dahulu membangun rasa percaya, bahkan dalam beberapa kasus menggunakan pendekatan emosional atau love scam.
Kasatreskrim Polres Purworejo, AKP Dwiyono, mengungkapkan kasus tersebut diduga terkait jaringan penipuan lintas negara yang dikendalikan dari Kamboja. Dua tersangka telah diamankan polisi setelah korban mengalami kerugian mencapai Rp 452 juta.
Direktur Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persada, menjelaskan bahwa modus baru penipuan investasi memanfaatkan teknik rekayasa sosial atau social engineering yang dirancang untuk memanipulasi psikologis korban.
Menurutnya, pelaku sengaja menciptakan interaksi yang terlihat alami agar korban tidak curiga. Setelah komunikasi berjalan intens, korban diarahkan ke platform investasi palsu yang menampilkan keuntungan seolah-olah nyata.
“Kasus ini menunjukkan bagaimana pelaku memanfaatkan interaksi sederhana untuk membangun relasi psikologis sebelum mengarahkan korban pada investasi fiktif,” kata Pratama Persada kepada Kompas.com.
Fenomena modus baru penipuan investasi juga menunjukkan bahwa kejahatan digital kini tidak lagi hanya mengandalkan teknologi, tetapi lebih banyak memanfaatkan sisi emosional manusia. Pelaku memahami bahwa rasa penasaran, empati, hingga kebutuhan untuk dihargai dapat menjadi pintu masuk penipuan.
Yang membuat situasi semakin mengkhawatirkan, banyak korban baru menyadari dirinya tertipu setelah kehilangan uang dalam jumlah besar. Sebab pada tahap awal, platform investasi palsu biasanya dibuat terlihat profesional dengan tampilan keuntungan yang terus meningkat.
Pelaku kemudian meminta korban melakukan transfer tambahan dengan alasan verifikasi akun, biaya administrasi, hingga penambahan saldo investasi.
Data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) yang dikutip Kompas.com menunjukkan ribuan kasus love scam dan penipuan digital terjadi sepanjang 2025 dengan kerugian mencapai puluhan miliar rupiah.
Pakar keamanan siber mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap modus baru penipuan investasi, terutama jika diawali komunikasi dari nomor asing yang tidak dikenal.
Pesan sederhana seperti “maaf salah sambung” kini tidak bisa lagi dianggap sepele. Sebab di balik percakapan santai tersebut, bisa saja terdapat skenario penipuan yang dirancang secara profesional.
Masyarakat disarankan tidak mudah percaya pada tawaran investasi dengan keuntungan tinggi dalam waktu singkat. Selain itu, penting untuk tidak memberikan data pribadi, kode OTP, maupun melakukan transfer dana kepada pihak yang belum terverifikasi.
Jika menemukan indikasi penipuan, pengguna juga disarankan segera memblokir nomor, melaporkan akun, dan menghentikan komunikasi sebelum pelaku membangun kedekatan lebih jauh.





