Mudik Lebaran 2026 Berubah Jadi Liburan, MTI Minta Rekayasa Lalu Lintas di Kawasan Wisata
Pola perjalanan masyarakat saat mudik Lebaran 2026 diprediksi berubah karena banyak pemudik yang sekaligus memanfaatkan momentum pulang kampung untuk berlibur, sehingga rekayasa lalu lintas di kawasan wisata dinilai semakin diperlukan.
Fenomena mudik Lebaran di Indonesia mulai mengalami perubahan. Jika sebelumnya masyarakat pulang kampung hanya untuk bersilaturahmi dengan keluarga, kini semakin banyak yang menjadikan perjalanan mudik sekaligus sebagai kesempatan berwisata.
Organisasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai perubahan pola tersebut perlu diantisipasi dengan pengaturan lalu lintas yang lebih baik, terutama di kawasan destinasi wisata yang diperkirakan akan mengalami lonjakan pengunjung selama libur Lebaran 2026.
Ketua Umum MTI, Haris Muhammadun, mengatakan bahwa tujuan perjalanan saat mudik kini tidak lagi semata untuk bertemu keluarga di kampung halaman. Banyak masyarakat yang memanfaatkan libur panjang untuk sekalian berlibur ke berbagai destinasi wisata.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu kepadatan kendaraan tidak hanya di jalur utama mudik, tetapi juga di kawasan wisata yang biasanya ramai selama musim liburan. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan menyiapkan manajemen serta rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan selama arus mudik maupun arus balik.
Pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan bahwa sejumlah kota telah menerapkan pengaturan lalu lintas di kawasan wisata populer. Di Jakarta misalnya, Dinas Perhubungan menerapkan rekayasa lalu lintas di beberapa destinasi seperti Taman Mini Indonesia Indah, Kebun Binatang Ragunan, Kota Tua Jakarta, Ancol Dreamland, dan Monumen Nasional untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan selama libur panjang.
Salah satu skema yang diterapkan adalah sistem satu arah di kawasan wisata tertentu, sementara pengaturan lain dilakukan secara situasional mengikuti kondisi di lapangan.
Di sisi lain, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi kepadatan selama periode mudik Lebaran. Beberapa di antaranya berupa diskon tarif transportasi publik dan jalan tol, pembatasan angkutan logistik, program mudik gratis, serta penerapan sistem lalu lintas seperti one way, contraflow, dan ganjil genap di sejumlah ruas jalan.
Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan, jumlah pergerakan masyarakat selama libur Lebaran 2026 diperkirakan mencapai sekitar 143,9 juta perjalanan, angka yang tetap tinggi meski sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya.
Karena itu, sinkronisasi kebijakan transportasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pengelola destinasi wisata dinilai penting agar arus mudik dan arus balik dapat berjalan lancar sekaligus menghindari kemacetan parah di jalur wisata.
Dengan perubahan pola perjalanan yang semakin dinamis, rekayasa lalu lintas tidak lagi hanya difokuskan pada jalur mudik utama, tetapi juga perlu diperluas ke kawasan wisata yang menjadi tujuan masyarakat selama libur Lebaran.





