Diet Protein Maxxing Viral, Benarkah Makan Protein Sebanyak Mungkin Bisa Membakar Lemak?
Tren diet protein maxxing yang viral di media sosial diklaim mampu membakar lemak dan mempercepat penurunan berat badan, benarkah ?
Media sosial kembali melahirkan tren diet baru yang menarik perhatian para pegiat gaya hidup sehat. Setelah sebelumnya muncul fibermaxxing yang mendorong konsumsi serat tinggi, kini giliran protein maxxing yang menjadi perbincangan.
Konsepnya sederhana: memperbanyak konsumsi protein dalam jumlah tinggi dengan tujuan meningkatkan rasa kenyang, membentuk massa otot, dan mempercepat pembakaran lemak. Pendukung pola makan ini meyakini bahwa semakin banyak protein yang dikonsumsi, semakin efektif tubuh menurunkan berat badan.
Namun, benarkah pola makan tersebut aman dan efektif bagi semua orang?
Protein Memang Penting, Tapi Ada Batasnya
Protein merupakan salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperbaiki jaringan, memelihara massa otot, serta mendukung berbagai fungsi metabolisme.
Menurut Dr. Penny Stern, Kepala Divisi Preventive & Lifestyle Medicine di Northwell Health, kebutuhan protein orang dewasa umumnya berkisar 0,8 hingga 1,2 gram per kilogram berat badan per hari. Kebutuhan lebih tinggi biasanya hanya diperlukan oleh atlet, lansia, atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu.
Artinya, seseorang dengan berat badan 70 kilogram rata-rata membutuhkan sekitar 56â84 gram protein per hari. Jumlah tersebut umumnya sudah dapat dipenuhi dari pola makan normal yang mengandung ikan, ayam, telur, tempe, tahu, susu, dan kacang-kacangan.
Tidak Otomatis Membakar Lemak
Salah satu klaim yang sering muncul dalam tren protein maxxing adalah tubuh akan lebih cepat membakar lemak jika asupan protein ditingkatkan secara drastis.
Para ahli menilai klaim tersebut terlalu disederhanakan. Penurunan berat badan tetap bergantung pada keseimbangan energi secara keseluruhan, termasuk jumlah kalori yang masuk, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan kondisi metabolisme tubuh.
Protein memang membantu meningkatkan rasa kenyang lebih lama sehingga dapat mengurangi keinginan makan berlebihan. Namun, konsumsi protein dalam jumlah ekstrem tidak otomatis membuat lemak tubuh terbakar lebih cepat.
Risiko bagi Ginjal dan Kesehatan Tubuh
Kekhawatiran terbesar para ahli terhadap protein maxxing adalah potensi beban berlebih pada ginjal.
Ketika tubuh memetabolisme protein, ginjal harus bekerja untuk menyaring sisa metabolisme, termasuk nitrogen. Jika konsumsi protein terlalu tinggi dalam jangka panjang, organ tersebut dapat bekerja lebih keras dari biasanya.
Selain itu, tekanan pada ginjal berpotensi memengaruhi sistem tubuh lainnya, termasuk peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan peradangan kronis.
Risiko akan lebih besar pada individu yang telah memiliki gangguan ginjal atau penyakit metabolik tertentu.
Terlalu Fokus Protein Bisa Mengorbankan Serat
Masalah lain yang sering terjadi pada pelaku diet tinggi protein adalah berkurangnya konsumsi sayur, buah, dan biji-bijian utuh.
Padahal serat memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan pencernaan, mengontrol kadar gula darah, serta membantu menjaga kesehatan jantung. Para ahli bahkan menilai kekurangan serat jauh lebih umum terjadi dibanding kekurangan protein pada masyarakat modern.
Akibatnya, orang yang terlalu fokus mengejar protein berisiko mengalami sembelit, gangguan pencernaan, hingga ketidakseimbangan asupan nutrisi.
Diet Seimbang Masih Menjadi Pilihan Terbaik
Di tengah maraknya berbagai tren diet viral, para ahli tetap merekomendasikan pola makan seimbang yang mencakup protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serat, buah, dan sayuran.
Protein tetap penting untuk kesehatan dan pengelolaan berat badan, tetapi tidak perlu dikonsumsi secara berlebihan. Pendekatan moderat dan berkelanjutan dinilai jauh lebih aman dibanding mengikuti pola makan ekstrem yang menjanjikan hasil instan





