HealthcareUpdate News

Kemenkes Ungkap 10–15% Jemaah Haji Alami Gangguan Mental, Lansia Paling Rentan Demensia

Kemenkes ungkap 10–15% jemaah haji alami gangguan mental. Lansia dengan demensia jadi kelompok paling rentan selama ibadah di Tanah Suci.

Pelaksanaan ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan fisik, tetapi juga mental. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap bahwa sekitar 10 hingga 15 persen jemaah haji Indonesia membutuhkan perhatian khusus terkait kondisi kesehatan jiwa selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyebut ibadah haji merupakan pengalaman spiritual yang intens, namun juga penuh tantangan. Perubahan lingkungan yang drastis, kepadatan jutaan jemaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental.

Dari total sekitar 221 ribu jemaah Indonesia pada musim haji 2026, sekitar 11 ribu di antaranya merupakan lansia. Kelompok ini dinilai paling rentan karena menghadapi tantangan ganda, baik secara fisik maupun mental.

Data dari layanan kesehatan haji menunjukkan bahwa sekitar 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat merupakan lansia dengan gejala demensia. Kondisi ini membuat mereka lebih mudah mengalami kebingungan, disorientasi, hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru yang sangat berbeda dari keseharian.

Selain gangguan mental, masalah lain yang banyak dialami jemaah adalah gangguan tidur. Kemenkes mencatat sekitar 30 hingga 40 persen jemaah mengalami kesulitan tidur akibat perubahan ritme biologis, aktivitas ibadah yang padat, serta kondisi lingkungan yang berbeda.

Faktor lingkungan turut memperparah kondisi tersebut. Suhu di Makkah yang bisa mencapai 35 hingga 38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah berpotensi memicu dehidrasi, kelelahan, hingga memperburuk kondisi psikologis jemaah.

Read More  5 Kesalahan Keuangan yang Baru Disadari Saat Terlambat, Hindari Sebelum Terjebak

Tak hanya itu, kebijakan baru seperti penggunaan aplikasi digital untuk layanan haji, aturan visa yang lebih ketat, hingga keterbatasan akses tertentu juga menambah tekanan psikologis, terutama bagi jemaah yang kurang familiar dengan teknologi.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenkes menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam persiapan haji. Tidak hanya kesiapan fisik, tetapi juga mental harus dipersiapkan sejak sebelum keberangkatan.

Langkah yang disarankan meliputi konseling pra-haji, pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah yang seimbang dengan waktu istirahat, serta menjaga hidrasi dan asupan nutrisi. Selain itu, petugas kesehatan haji kini juga dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Kemenkes mengingatkan bahwa kesiapan mental menjadi kunci penting agar jemaah dapat menjalani ibadah dengan tenang dan khusyuk. Tanpa persiapan yang matang, tekanan selama pelaksanaan haji berpotensi mengganggu kesehatan jiwa dan keselamatan jemaah itu sendiri.

Back to top button