Bantargebang Jadi Penghasil Metana Terbesar Kedua Dunia, Ancaman Serius bagi Kesehatan Warga
TPST Bantargebang di Bekasi tercatat sebagai penghasil gas metana terbesar kedua di dunia, dengan dampak yang tak hanya mengancam lingkungan tetapi juga kesehatan masyarakat sekitar.
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kembali menjadi sorotan global setelah tercatat sebagai salah satu sumber emisi gas metana terbesar di dunia. Berdasarkan riset internasional, kawasan ini menghasilkan sekitar 6,3 ton metana per jam, menjadikannya peringkat kedua setelah lokasi pembuangan sampah di Argentina.
Besarnya emisi tersebut bahkan disebut setara dengan satu pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) berkapasitas besar. Hal ini menggambarkan skala dampak yang sangat besar, terutama terhadap perubahan iklim global.
Gas metana sendiri berasal dari pembusukan sampah organik, seperti sisa makanan, yang menumpuk dalam jumlah besar. Ketika tidak dikelola dengan baik, gas ini akan terlepas ke atmosfer dan menjadi salah satu penyumbang utama pemanasan global. Selain itu, akumulasi metana di dalam timbunan sampah juga berbahaya karena dapat memicu kebakaran atau bahkan ledakan.
Namun dampak paling nyata dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Paparan gas metana dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius. Warga di sekitar TPST Bantargebang dilaporkan rentan mengalami penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma, hingga bronkitis.
Tidak hanya itu, paparan berkepanjangan juga berpotensi menyebabkan kerusakan paru-paru permanen, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Kondisi lingkungan yang tercemar turut memperburuk kesehatan, dengan meningkatnya risiko penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga kualitas air yang menurun akibat limbah.
Secara ilmiah, gas metana juga dapat memperburuk kualitas udara dengan membentuk ozon di permukaan tanah (ozon troposfer). Senyawa ini berbahaya bagi sistem pernapasan manusia dan dapat memperparah penyakit kronis. Bahkan, dalam konsentrasi tinggi, metana dapat menurunkan kadar oksigen di udara, yang berisiko mengganggu fungsi tubuh manusia.
Selain berdampak pada kesehatan manusia, emisi metana juga berpengaruh pada sektor pertanian. Pembentukan ozon akibat metana dapat menurunkan hasil panen hingga sekitar 12 persen, sehingga berdampak pada ketahanan pangan.
Para ahli menilai kondisi ini sebagai âalarm kerasâ bagi Indonesia. Tingginya emisi metana dari sektor limbah menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah masih belum optimal dan membutuhkan transformasi besar, mulai dari pengurangan sampah dari sumber hingga pemanfaatan gas metana sebagai energi.
Dengan skala emisi yang setara pembangkit listrik besar, TPST Bantargebang tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan masyarakat. Tanpa penanganan serius dan sistemik, dampak gas metana akan terus dirasakan, baik dalam bentuk penyakit, penurunan kualitas hidup, maupun ancaman jangka panjang terhadap lingkungan.



