HealthcareUpdate News

CISDI: 9 dari 10 Makanan Kemasan di RI Tinggi Gula, Garam, dan Lemak

Riset terbaru mengungkap mayoritas makanan kemasan di Indonesia tidak sehat karena mengandung gula, garam, dan lemak berlebih.

Temuan mengejutkan datang dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang menyebut sekitar 9 dari 10 produk makanan dan minuman kemasan di Indonesia mengandung gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih.

Hasil ini didasarkan pada studi yang menganalisis lebih dari 8.000 produk pangan kemasan di berbagai kota besar. Penelitian tersebut menunjukkan sekitar 90 hingga 95 persen produk tergolong tidak sehat jika mengacu pada model profil gizi berbasis standar internasional.

Tak hanya kandungan GGL yang tinggi, sebagian produk juga menggunakan pemanis non-gula yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Peneliti CISDI menilai persoalan ini tidak sekadar soal pilihan individu, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan pangan yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat.

“Temuan ini menegaskan masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan pangan yang didominasi produk tinggi gula, garam, dan lemak,” ujar peneliti CISDI.

Studi tersebut juga membandingkan berbagai model penilaian gizi global, termasuk standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan dengan sistem Nutri-Level yang tengah dikembangkan di Indonesia.

Jika menggunakan standar global, hingga 95 persen produk masuk kategori tidak sehat. Namun dengan ambang batas Nutri-Level, hanya sekitar 73 persen yang teridentifikasi. Perbedaan ini dinilai berpotensi membuat sebagian produk tidak sehat “lolos” dari klasifikasi.

Para peneliti menilai ketepatan ambang batas menjadi faktor kunci dalam efektivitas kebijakan pangan. Jika terlalu longgar, konsumen bisa salah persepsi terhadap tingkat kesehatan suatu produk.

Read More  Minat Perusahaan Berinvestasi di Aset Kripto Melonjak, Nilainya Jauh Lebih Besar dari Investor Ritel

Selain itu, desain label gizi yang tidak sederhana juga berisiko membingungkan masyarakat. Produk dengan kategori tertentu bisa terlihat aman, padahal kandungan gula, garam, atau lemaknya sudah melebihi batas.

Temuan ini memperkuat urgensi pembenahan kebijakan pangan nasional, termasuk penerapan label peringatan yang lebih tegas di bagian depan kemasan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat.

CISDI juga menekankan perlunya intervensi kebijakan yang lebih komprehensif, mulai dari pengetatan standar gizi, pembatasan pemasaran produk tidak sehat, hingga edukasi publik yang lebih masif.

Tanpa langkah konkret, tingginya konsumsi makanan kemasan berisiko memperburuk beban penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung di Indonesia.

Back to top button