Schneider Electric Dorong Transformasi Smart Hospital, Tekankan Efisiensi Energi dan Digitalisasi
Schneider Electric bersama Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia menggelar Healthcare Leadership Forum 2026 untuk mempercepat transformasi rumah sakit pintar di Indonesia.
Schneider Electric berkolaborasi dengan Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia (PTPI) menyelenggarakan Healthcare Leadership Forum 2026 di Jakarta pada 21 April 2026. Forum ini menjadi wadah strategis bagi para pemangku kepentingan sektor kesehatan untuk membahas percepatan transformasi rumah sakit menuju konsep smart hospital yang berkelanjutan, efisien, dan siap secara digital.
Forum ini digelar di tengah dinamika sektor kesehatan Indonesia yang tengah mengalami transformasi besar seiring dorongan digitalisasi layanan. Rumah sakit sebagai fasilitas yang beroperasi 24 jam menghadapi tantangan konsumsi energi yang tinggi, bahkan bisa mencapai 2,5 kali lebih besar dibandingkan bangunan komersial pada umumnya, serta meningkatnya kebutuhan integrasi teknologi dan data untuk meningkatkan kualitas layanan pasien.
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan, menegaskan bahwa transformasi rumah sakit membutuhkan pendekatan menyeluruh. Ia menyebut digitalisasi saja tidak cukup tanpa diiringi efisiensi energi, keandalan operasional, dan keberlanjutan jangka panjang. Schneider Electric, kata dia, berkomitmen mendukung upaya pemerintah melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan elektrifikasi, otomasi, dan digitalisasi guna meningkatkan visibilitas operasional serta ketahanan infrastruktur rumah sakit.
Dalam diskusi yang menghadirkan Ockti Palupi Rahayuningtyas, Eko Supriyanto, dan Setiaji, terungkap bahwa sektor kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Mulai dari tingginya biaya operasional, kebutuhan peningkatan pengalaman pasien, hingga keberlanjutan finansial rumah sakit. Selain itu, tantangan juga datang dari infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, serta sistem informasi yang masih terfragmentasi dan belum terintegrasi optimal.
Menurut Eko Supriyanto, transformasi menuju smart hospital membutuhkan sinergi kuat antara regulasi, sistem, pembiayaan, dan sumber daya manusia. Pendekatan yang terintegrasi dan terstandardisasi dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan layanan kesehatan dalam jangka panjang.
Sementara itu, pengalaman implementasi di lapangan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi mampu memberikan dampak signifikan. Eniarti menjelaskan bahwa pengembangan sistem informasi terintegrasi dan pemanfaatan building automation system (BAS) di RS Kanker Dharmais berhasil meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan penggunaan energi, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Hal serupa juga terlihat di RS Telogorejo, di mana adopsi teknologi digital mampu meningkatkan efisiensi energi lebih dari 15 persen serta memperkuat visibilitas operasional secara real-time.
Sebagai mitra teknologi, Schneider Electric menghadirkan platform EcoStruxure for Healthcare yang dirancang untuk mendukung transformasi rumah sakit masa depan. Solusi ini mencakup pengelolaan energi kritikal dan infrastruktur listrik, pemanfaatan data untuk pemeliharaan aset, keamanan sistem end-to-end, hingga digitalisasi siklus hidup operasional rumah sakit. Pendekatan berbasis IoT ini juga memungkinkan integrasi sistem terbuka, optimalisasi sumber energi, pengelolaan ruang klinis, serta peningkatan pengalaman pasien secara menyeluruh.
Secara global, solusi tersebut telah terbukti mampu menekan konsumsi energi hingga 20 persen sekaligus meningkatkan efisiensi operasional melalui pemanfaatan data dan analitik secara real-time. Dengan kolaborasi lintas sektor dan penerapan teknologi terintegrasi, transformasi menuju smart hospital di Indonesia diharapkan dapat memperkuat kualitas layanan kesehatan sekaligus menciptakan sistem yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan.





