FintalkUpdate News

Scam Makin Mengkhawatirkan, Rp9,3 Triliun Uang Warga Indonesia Raib Akibat Penipuan Digital

Kerugian masyarakat Indonesia akibat penipuan digital atau scam telah menembus Rp9,3 triliun, dana yang berhasil diselamatkan hanya sekitar tujuh persen.

Kerugian masyarakat Indonesia akibat penipuan digital atau scam telah menembus Rp9,3 triliun, sementara dana yang berhasil diselamatkan hanya sekitar tujuh persen dari total nilai kerugian yang dilaporkan.

Data tersebut diungkap oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan laporan yang diterima melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Sejak mulai beroperasi pada November 2024 hingga pertengahan 2026, IASC telah menerima lebih dari 430 ribu laporan dugaan penipuan digital dari masyarakat dengan nilai kerugian yang terus meningkat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa sebagian besar dana korban sulit dipulihkan karena pelaku bergerak sangat cepat memindahkan uang ke berbagai rekening maupun platform digital.

Hingga saat ini, dana yang berhasil diblokir dan diamankan baru mencapai sekitar Rp430 miliar atau sekitar tujuh persen dari total kerugian yang dilaporkan. Sebagian dana tersebut telah dikembalikan kepada korban yang melaporkan kasusnya secara cepat.

Modus Scam Semakin Beragam

OJK mencatat pelaku menggunakan berbagai modus untuk menjebak korban. Di antaranya penipuan belanja daring, investasi bodong, lowongan kerja palsu, penyamaran sebagai petugas bank atau instansi resmi (impersonation), hingga love scam yang memanfaatkan hubungan emosional dengan korban.

Pelaku biasanya memanfaatkan rendahnya literasi digital masyarakat, kemudian mendorong korban memberikan data pribadi, kode OTP, atau mentransfer sejumlah uang ke rekening tertentu.

Perkembangan teknologi juga membuat modus penipuan semakin sulit dikenali. Pelaku dapat memalsukan identitas, membuat situs web yang menyerupai layanan resmi, hingga menggunakan media sosial dan aplikasi percakapan untuk membangun kepercayaan korban.

Read More  Kenapa Setelah Cari Produk Kita Langsung Dikejar Iklan? Ini Cara Menguranginya

Kecepatan Melapor Menentukan Peluang Dana Kembali

Menurut OJK, peluang dana korban untuk diselamatkan sangat bergantung pada kecepatan pelaporan. Semakin cepat korban melaporkan kejadian tersebut kepada IASC atau bank terkait, semakin besar kemungkinan rekening pelaku dapat diblokir sebelum dana dipindahkan ke berbagai saluran pembayaran lain.

Sebaliknya, laporan yang terlambat membuat proses pelacakan menjadi jauh lebih sulit karena uang hasil penipuan biasanya sudah berpindah ke banyak rekening, digunakan untuk transaksi belanja daring, bahkan dialihkan ke aset kripto.

Pentingnya Literasi Digital

Meningkatnya nilai kerugian akibat scam menunjukkan bahwa edukasi mengenai keamanan digital menjadi semakin penting. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada tawaran investasi dengan keuntungan tidak wajar, hadiah yang meminta biaya administrasi, maupun pihak yang mengaku berasal dari bank atau instansi pemerintah dan meminta data pribadi.

Selain itu, OJK mengingatkan masyarakat agar tidak pernah membagikan PIN, password, maupun kode OTP kepada siapa pun serta selalu memverifikasi informasi melalui saluran resmi sebelum melakukan transaksi keuangan.

Di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan, kewaspadaan menjadi benteng pertama untuk mencegah masyarakat menjadi korban penipuan digital yang nilainya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Back to top button