Hanya 6 Persen Gen Z Ingin Jadi Bos, Kesuksesan Kini Tak Lagi Diukur dari Jabatan
Menjadi bos bukan lagi cita-cita utama bagi sebagian besar Generasi Z karena mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup, stabilitas finansial, dan kesempatan untuk terus berkembang
Jika pada generasi sebelumnya jabatan tinggi di perusahaan dianggap sebagai simbol kesuksesan, Generasi Z justru memiliki cara pandang yang berbeda. Bagi mereka, sukses tidak selalu berarti memiliki ruang kerja di lantai paling atas atau memimpin banyak karyawan.
Survei Deloitte Gen Z and Millennial Survey 2026 mengungkapkan bahwa hanya 6 persen responden Generasi Z dan milenial yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka. Temuan tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran makna kesuksesan di dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh kesejahteraan hidup, stabilitas finansial dan kesempatan untuk terus belajar.
Rendahnya minat menjadi bos bukan berarti Generasi Z tidak memiliki ambisi. Sebaliknya, mereka justru lebih realistis dalam menentukan arah karier. Sebanyak 25 persen Generasi Z lebih memilih pertumbuhan karier secara bertahap dibandingkan mengejar promosi jabatan secara cepat. Mereka juga tidak keberatan melakukan perpindahan posisi pekerjaan apabila dapat memberikan pengalaman dan keterampilan yang lebih baik untuk masa depannya.
Bagi Generasi Z, memiliki pekerjaan yang memberikan ruang untuk belajar dan menjaga keseimbangan kehidupan pribadi menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dibandingkan besarnya gaji maupun jabatan. Mereka juga lebih mempertimbangkan dampak pekerjaan terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Tekanan ekonomi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir juga turut memengaruhi cara pandang tersebut. Deloitte menemukan bahwa lebih dari separuh Generasi Z menunda berbagai keputusan besar dalam hidupnya, mulai dari menikah, melanjutkan pendidikan hingga memulai usaha karena kondisi keuangan yang belum sepenuhnya stabil.
Karena itu, kemandirian finansial justru menjadi salah satu prioritas utama dalam perjalanan karier mereka. Bagi Generasi Z, memiliki penghasilan yang cukup, waktu yang lebih fleksibel dan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dinilai lebih penting dibandingkan sekadar memperoleh jabatan yang tinggi.
Perubahan cara pandang ini juga memberikan tantangan baru bagi perusahaan. Model kepemimpinan yang terlalu hierarkis semakin sulit menarik minat talenta muda. Mereka tidak lagi melihat posisi manajerial sebagai tujuan akhir karier apabila tanggung jawab yang lebih besar tidak diimbangi dengan kesejahteraan yang lebih baik.
Di sisi lain, Generasi Z memiliki ekspektasi yang lebih besar terhadap peran seorang pemimpin di tempat kerja. Mereka berharap atasan dapat menjadi mentor yang memberikan arahan, inspirasi dan dukungan terhadap pengembangan karier, bukan sekadar mengawasi pencapaian target pekerjaan.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan juga turut memengaruhi prioritas karier generasi muda. Sebanyak 74 persen Generasi Z meyakini teknologi AI akan memengaruhi cara mereka bekerja dalam waktu dekat. Karena itu, mereka semakin fokus untuk meningkatkan keterampilan teknis maupun kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kreativitas dan kepemimpinan personal yang sulit digantikan oleh teknologi.
Fenomena ini sesungguhnya menjadi pengingat bahwa definisi sukses terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Jika dahulu kesuksesan identik dengan promosi jabatan dan masa kerja yang panjang di satu perusahaan, kini generasi muda lebih melihatnya sebagai kemampuan untuk mencapai keseimbangan antara karier, kesehatan mental dan kehidupan pribadi.
Perusahaan pun perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Menawarkan jenjang karier yang fleksibel, budaya kerja yang lebih suportif dan kesempatan belajar yang berkelanjutan kemungkinan akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan talenta muda di masa depan.
Pada akhirnya, rendahnya minat Generasi Z untuk menjadi bos tidak dapat diartikan sebagai hilangnya semangat untuk berprestasi. Mereka hanya memiliki definisi sukses yang berbeda. Jabatan bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan, melainkan salah satu pilihan dalam perjalanan karier yang lebih berorientasi pada kualitas hidup dan pengembangan diri.





