Kadar Gula Darah Anak SD Banyak yang Tinggi, Risiko Stroke dan Penyakit Jantung Mengintai Saat Dewasa
Banyak anak usia sekolah dasar di Indonesia diketahui memiliki kadar gula darah yang tinggi sehingga meningkatkan risiko terkena diabetes, stroke, dan penyakit jantung ketika dewasa.
Kadar gula darah yang tinggi ternyata tidak lagi menjadi masalah kesehatan orang dewasa karena kini banyak ditemukan pada anak usia sekolah dasar (SD) dan berpotensi meningkatkan risiko stroke serta penyakit jantung ketika mereka memasuki usia dewasa.
Temuan tersebut diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan pemerintah. Ia mengaku terkejut karena tingginya kadar gula darah sudah mulai ditemukan pada anak-anak usia SD, padahal kondisi tersebut selama ini lebih identik dengan kelompok usia dewasa.
Menurut Dante, apabila kadar gula darah yang tinggi tidak dikendalikan sejak dini, maka dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Anak-anak yang mengalami gangguan metabolisme sejak usia dini berisiko lebih besar mengalami penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, hingga penyakit jantung saat dewasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pola penyakit di Indonesia mulai mengalami pergeseran. Penyakit yang dahulu banyak ditemukan pada usia lanjut kini mulai muncul pada kelompok usia yang jauh lebih muda. Bahkan, Kementerian Kesehatan telah mengingatkan bahwa kasus diabetes tipe 2 semakin banyak ditemukan pada remaja dan mulai muncul pada usia SMP akibat perubahan gaya hidup yang kurang sehat.
Peningkatan kadar gula darah pada anak tidak terjadi secara tiba-tiba. Pola konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, minimnya aktivitas fisik, durasi penggunaan gawai yang semakin panjang, hingga kebiasaan kurang tidur menjadi sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
Saat ini, minuman manis kemasan, makanan ultra-proses, serta makanan cepat saji semakin mudah dijangkau anak-anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut konsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula, garam, dan lemak telah menjadi tantangan kesehatan yang serius di Indonesia. Hampir separuh penduduk Indonesia berusia di atas tiga tahun tercatat mengonsumsi lebih dari satu minuman manis setiap hari.
Apabila kebiasaan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun, tubuh akan mengalami gangguan metabolisme yang dapat memicu resistensi insulin, obesitas, hipertensi, hingga diabetes tipe 2. Kondisi inilah yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke di kemudian hari.
Perlu Peran Orang Tua
Meningkatnya kadar gula darah pada anak usia SD seharusnya menjadi peringatan bagi para orang tua untuk mulai memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik anak sejak dini. Pencegahan jauh lebih mudah dilakukan dibandingkan mengobati penyakit kronis yang muncul puluhan tahun kemudian.
Orang tua dapat memulai langkah sederhana dengan membatasi konsumsi minuman manis kemasan, mengurangi pemberian makanan cepat saji, serta membiasakan anak mengonsumsi buah dan sayuran setiap hari. Selain itu, anak juga perlu didorong untuk melakukan aktivitas fisik secara rutin dan membatasi penggunaan gawai di luar kebutuhan belajar.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan batas konsumsi gula maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per orang per hari. Batas tersebut bukan hanya berasal dari gula pasir yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman, tetapi juga mencakup gula yang terkandung dalam minuman kemasan maupun makanan olahan yang dikonsumsi setiap hari.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan untuk mendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan pada anak. Dengan deteksi yang lebih cepat, intervensi terhadap pola makan dan gaya hidup dapat segera dilakukan sehingga risiko munculnya penyakit kronis pada usia dewasa dapat ditekan.
Kadar gula darah yang tinggi pada anak usia SD merupakan alarm yang tidak boleh diabaikan. Generasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kecukupan gizi, tetapi juga oleh pola hidup yang dijalankan sejak masa kanak-kanak. Upaya menjaga kesehatan anak hari ini menjadi investasi penting untuk mencegah meningkatnya beban penyakit stroke, diabetes, dan penyakit jantung di masa depan.





