Makan 5 Telur Seminggu Dikaitkan dengan Risiko Alzheimer Lebih Rendah, Ini Penjelasannya
Studi terbaru menemukan bahwa konsumsi telur secara rutin, termasuk lima kali atau lebih dalam seminggu, berkaitan dengan risiko penyakit Alzheimer yang lebih rendah pada kelompok usia lanjut
elur selama ini dikenal sebagai salah satu sumber protein yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau. Namun, penelitian terbaru menemukan manfaat lain yang menarik perhatian, yakni adanya hubungan antara konsumsi telur dan penurunan risiko penyakit Alzheimer.
Penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition menganalisis data 39.498 peserta dalam Adventist Health Study-2 yang kemudian dikaitkan dengan data Medicare. Peserta diikuti rata-rata selama 15,3 tahun dan sebanyak 2.858 di antaranya tercatat mengalami Alzheimer.
Hasil penelitian menunjukkan, dibandingkan dengan peserta yang jarang atau tidak pernah makan telur, mereka yang mengonsumsi telur lima kali atau lebih dalam seminggu memiliki risiko relatif lebih rendah untuk didiagnosis Alzheimer.
Kelompok yang mengonsumsi telur lima kali atau lebih per minggu memiliki hazard ratio sebesar 0,73 setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor demografi, gaya hidup, kelompok makanan, dan kondisi kesehatan. Angka tersebut setara dengan sekitar 27 persen lebih rendah risikonya dibandingkan kelompok yang jarang atau tidak mengonsumsi telur.
Namun, angka 27 persen tersebut perlu dipahami dengan hati-hati. Penelitian ini merupakan studi observasional sehingga tidak dapat menyimpulkan bahwa makan lima telur per minggu secara langsung menyebabkan risiko Alzheimer turun 27 persen.
Dengan kata lain, penelitian menemukan adanya keterkaitan antara pola konsumsi telur dan risiko Alzheimer. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah telur memang memiliki efek perlindungan terhadap otak atau terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi hasil tersebut.
Mengapa Telur Dikaitkan dengan Kesehatan Otak?
Salah satu alasan telur mendapat perhatian dalam penelitian kesehatan otak adalah kandungan nutrisinya.
Telur mengandung kolin, yaitu zat gizi yang berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk pembentukan asetilkolin, neurotransmiter yang berhubungan dengan fungsi memori dan sistem saraf.
Penelitian sebelumnya yang diterbitkan pada 2024 juga menemukan hubungan antara konsumsi telur dan risiko demensia Alzheimer pada kelompok lansia. Studi tersebut melibatkan 1.024 orang dengan rata-rata usia sekitar 81 tahun. Konsumsi lebih dari satu telur per minggu maupun sedikitnya dua telur per minggu dikaitkan dengan risiko Alzheimer yang lebih rendah. Analisis jaringan otak juga menunjukkan hubungan dengan lebih rendahnya patologi Alzheimer.
Menariknya, penelitian tersebut memperkirakan sekitar 39 persen hubungan antara konsumsi telur dan kejadian Alzheimer dimediasi oleh asupan kolin. Temuan ini memberikan petunjuk bahwa kandungan nutrisi telur mungkin berperan dalam hubungan tersebut, meski tetap belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Selain kolin, telur juga menyediakan sejumlah zat gizi lain yang berkaitan dengan kesehatan tubuh dan otak, termasuk lutein serta asam lemak omega-3 pada telur tertentu.
Bukan Berarti Semakin Banyak Telur Semakin Sehat
Hasil penelitian ini juga tidak berarti seseorang harus mengonsumsi telur sebanyak-banyaknya untuk mencegah Alzheimer.
Dalam penelitian terbaru, kategori konsumsi tertinggi adalah lima kali atau lebih per minggu. Para peneliti justru menggambarkan hasil tersebut sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan.
Artinya, telur sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu bagian dari pola makan bergizi seimbang, bukan sebagai satu-satunya makanan untuk menjaga kesehatan otak.
Hal ini penting karena kesehatan otak dipengaruhi banyak faktor. Aktivitas fisik, kualitas tidur, tekanan darah, kesehatan jantung dan pembuluh darah, berat badan, kebiasaan merokok, aktivitas sosial, serta pola makan secara keseluruhan juga berperan dalam kesehatan kognitif.
Penelitian Sebelumnya Menunjukkan Hasil Beragam
Hubungan antara telur dan kesehatan otak sebenarnya bukan temuan baru. Studi pada 2024 terhadap kelompok lansia juga menemukan hubungan antara konsumsi telur dan risiko Alzheimer yang lebih rendah.
Namun, penelitian lain tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang sama. Studi EPIC-Spain yang mengikuti lebih dari 25.000 peserta selama rata-rata 21,5 tahun tidak menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi telur dengan risiko demensia maupun Alzheimer secara keseluruhan.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara pola makan dan Alzheimer sangat kompleks. Jenis makanan lain yang dikonsumsi, pola hidup, kondisi kesehatan, usia, serta faktor sosial dan genetik dapat ikut memengaruhi risiko penyakit.
Karena itu, satu jenis makanan tidak seharusnya dianggap sebagai obat atau jaminan seseorang terbebas dari Alzheimer.
Telur Bisa Menjadi Bagian dari Pola Makan Sehat
Bagi masyarakat yang menyukai telur, hasil penelitian terbaru tentu menjadi kabar menarik. Telur dapat menjadi sumber protein dan sejumlah zat gizi penting yang mudah dimasukkan ke dalam menu sehari-hari.
Namun, cara mengolahnya juga perlu diperhatikan. Telur yang dikonsumsi bersama banyak makanan tinggi lemak jenuh, garam, atau makanan ultra-proses tentu memberikan konteks nutrisi yang berbeda dibandingkan telur yang menjadi bagian dari menu dengan sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein sehat lainnya.
Dengan demikian, pesan utama dari penelitian ini bukan sekadar âmakan lima telur agar tidak terkena Alzheimerâ.
Temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai tambahan bukti bahwa pola makan dan asupan zat gizi tertentu mungkin memiliki kaitan dengan kesehatan otak dalam jangka panjang.
Makan telur lima kali atau lebih dalam seminggu memang dikaitkan dengan risiko Alzheimer yang lebih rendah dalam penelitian terbaru. Namun, sampai ada bukti yang lebih kuat, telur tetap sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan sebagai cara tunggal untuk mencegah Alzheimer.





