Menari Bisa Bantu Jaga Otak Tetap Sehat, Studi Ungkap Manfaatnya untuk Fungsi Kognitif
Studi terbaru menemukan menari berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif, memori, dan perhatian pada orang dengan gangguan kognitif.
Menari bukan hanya aktivitas untuk bersenang-senang, tetapi juga berpotensi membantu menjaga fungsi kognitif dan kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Temuan tersebut berasal dari tinjauan sistematis dan network meta-analysis yang membandingkan berbagai jenis olahraga pada orang dengan gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment/MCI) dan demensia. Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Physiology pada Maret 2026 itu menganalisis 209 uji klinis teracak dengan total ribuan peserta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa menari memiliki potensi manfaat pada sejumlah aspek kemampuan kognitif. Dalam pemeringkatan yang digunakan peneliti, intervensi tari berada di posisi teratas untuk skor MoCA (Montreal Cognitive Assessment), yang digunakan untuk menilai fungsi kognitif secara umum.
Menari juga berada di posisi pertama atau kedua dalam sejumlah ukuran yang berkaitan dengan memori kerja dan perhatian. Sementara itu, untuk aspek suasana hati dan kemampuan fisik, tari menunjukkan hasil yang cukup kompetitif dibandingkan berbagai bentuk olahraga lainnya.
Mengapa Menari Bisa Baik untuk Otak?
Menari memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan olahraga yang hanya berfokus pada gerakan fisik. Ketika seseorang menari, tubuh harus bergerak mengikuti irama sekaligus mengingat urutan gerakan, mempertahankan keseimbangan, memperhatikan musik, dan menyesuaikan gerakan dengan lingkungan.
Kombinasi tersebut membuat menari melibatkan aktivitas fisik sekaligus aktivitas kognitif.
Peneliti menyebut kombinasi gerakan, ritme, keterlibatan kognitif, dan interaksi sosial menjadi salah satu alasan mengapa tari dinilai sebagai pilihan yang menjanjikan untuk mendukung kesehatan kognitif.
Aktivitas menari juga dapat dilakukan secara berkelompok. Interaksi dengan orang lain memberikan unsur sosial yang tidak selalu ditemukan dalam aktivitas olahraga individual.
Dengan demikian, ketika seseorang mengikuti kelas tari, misalnya, aktivitas yang dilakukan tidak hanya membuat tubuh bergerak, tetapi juga mengharuskan otak menerima informasi, mengingat pola, merespons musik, serta berinteraksi dengan orang lain.
Bukan Berarti Menari Pasti Mencegah Demensia
Meski hasil penelitian terdengar menjanjikan, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Studi tersebut tidak membuktikan bahwa menari dapat mencegah demensia secara pasti.
Penelitian ini terutama melihat efektivitas berbagai bentuk olahraga terhadap fungsi kognitif, kesejahteraan psikologis, dan kemampuan fisik pada orang yang sudah mengalami gangguan kognitif ringan atau demensia. Peneliti juga menyatakan bahwa bukti mengenai keunggulan tari dibandingkan olahraga lain masih terbatas.
Dalam analisis perbandingan langsung melalui network meta-analysis, menari tidak menunjukkan keunggulan yang signifikan secara statistik dibandingkan semua jenis olahraga lain untuk seluruh hasil yang diteliti.
Dengan kata lain, hasil penelitian lebih tepat dipahami bahwa menari merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang menjanjikan untuk mendukung fungsi kognitif, bukan sebagai metode yang terbukti dapat mencegah demensia pada setiap orang.
Bukti Penelitian Semakin Berkembang
Penelitian terbaru tersebut bukan satu-satunya studi yang menemukan hubungan positif antara aktivitas tari dan fungsi kognitif.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis sebelumnya yang melibatkan 29 penelitian intervensi tari dengan total 1.708 peserta menemukan bahwa aktivitas tari berkaitan dengan peningkatan fungsi kognitif secara umum, memori, dan keseimbangan, serta penurunan gejala depresi pada kelompok lanjut usia dengan MCI, penyakit Alzheimer, dan demensia.
Namun, kualitas dan jumlah bukti masih menjadi perhatian. Tinjauan yang lebih luas terhadap sejumlah meta-analisis menyimpulkan bahwa tari berpotensi memberikan manfaat terhadap kesehatan otak, tetapi kualitas keseluruhan bukti masih lemah dan penelitian mengenai penderita demensia masih relatif terbatas.
Karena itu, para peneliti masih membutuhkan penelitian dengan desain yang lebih kuat untuk mengetahui seberapa besar manfaat menari dan jenis aktivitas seperti apa yang paling efektif.
Menari Bisa Menjadi Pilihan Olahraga yang Menyenangkan
Salah satu keuntungan menari adalah aktivitas ini relatif mudah dikombinasikan dengan kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak harus menjadi penari profesional untuk memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut.
Menari dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, mulai dari mengikuti kelas tari, senam dengan iringan musik, menari bersama pasangan, hingga sekadar bergerak mengikuti musik di rumah.
Bagi orang lanjut usia, aktivitas tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan fisik. Gerakan dengan intensitas ringan hingga sedang dapat menjadi pilihan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan keseimbangan atau masalah kesehatan tertentu.
Yang terpenting adalah aktivitas dilakukan secara aman dan konsisten.
Aktivitas Fisik Tetap Penting untuk Kesehatan Otak
Hasil penelitian tersebut memperkuat pemahaman bahwa menjaga kesehatan otak tidak hanya berkaitan dengan aktivitas yang secara langsung melatih daya ingat.
Aktivitas fisik secara keseluruhan juga memiliki peran penting. Menari menawarkan kombinasi yang menarik karena menggabungkan gerakan tubuh dengan koordinasi, perhatian, ingatan, ritme, dan interaksi sosial.
Namun, menari bukan satu-satunya pilihan. Berjalan kaki, bersepeda, latihan kekuatan, yoga, maupun bentuk olahraga lainnya juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif.
Pada akhirnya, olahraga yang paling baik adalah aktivitas yang aman, sesuai kemampuan, dan dapat dilakukan secara rutin.
Bagi orang yang menikmati musik dan gerakan, menari bisa menjadi salah satu cara menyenangkan untuk tetap aktif sekaligus memberikan stimulasi kepada otak.
Dengan bukti yang terus berkembang, menari kini semakin menarik perhatian peneliti sebagai salah satu aktivitas yang berpotensi mendukung kesehatan otak pada usia lanjut. Meski belum dapat disebut sebagai cara pasti untuk mencegah demensia, aktivitas ini menawarkan kombinasi gerakan fisik dan stimulasi kognitif yang membuatnya layak menjadi bagian dari gaya hidup sehat.



