HealthcareUpdate News

Benarkah Minum Air Bisa Bikin Gemuk? Kenali Penyebab Sebenarnya

Anggapan bahwa minum air saja bisa membuat tubuh gemuk kerap muncul ketika berat badan mudah naik, padahal air putih tidak mengandung kalori dan ada sejumlah faktor lain yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

Sebagian orang merasa sudah mengurangi porsi makan, menjaga pola makan, bahkan merasa hanya minum air putih tetapi berat badan tetap mudah bertambah. Kondisi semacam ini memang dapat terjadi, tetapi bukan berarti air putih menyebabkan kegemukan.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), Prof. Dante Saksono Harbuwono, menjelaskan bahwa sebagian orang memang memiliki kecenderungan genetik yang membuat tubuh lebih mudah mengalami kenaikan berat badan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam temu media di Jakarta pada Juli 2026.

Benarkah Ada Orang yang “Minum Air Saja Bisa Gemuk”?

Secara harfiah, air putih tidak menyebabkan penambahan lemak tubuh karena air tidak mengandung kalori.

Namun, ungkapan “minum air saja bisa gemuk” dapat menggambarkan pengalaman seseorang yang merasa berat badannya mudah naik meskipun sudah berusaha membatasi makanan.

Menurut Dante, kecenderungan tersebut dapat berkaitan dengan faktor genetik. Ia menyebut ada orang yang membawa pola gen tertentu yang membuatnya lebih rentan mengalami obesitas.

Penjelasan tersebut sejalan dengan pemahaman medis bahwa obesitas merupakan kondisi yang kompleks. Faktor gen dapat memengaruhi antara lain nafsu makan, rasa kenyang, metabolisme, penyimpanan lemak, serta aktivitas fisik seseorang.

Artinya, dua orang dengan pola makan yang terlihat serupa belum tentu mengalami perubahan berat badan yang sama.

Genetik Bukan Berarti Berat Badan Tidak Bisa Dikendalikan

Meski faktor genetik dapat meningkatkan kerentanan terhadap obesitas, bukan berarti seseorang yang memiliki predisposisi genetik pasti mengalami obesitas atau tidak dapat menurunkan berat badan.

Read More  Bayar Pajak Pakai Kripto di Indonesia, Mungkinkah?

Obesitas terjadi melalui interaksi berbagai faktor.

Selain genetik, pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, obat-obatan tertentu, kondisi medis, lingkungan tempat tinggal, hingga faktor sosial dapat memengaruhi berat badan.

Karena itu, seseorang yang mengalami kenaikan berat badan tidak tepat jika langsung dianggap kurang disiplin atau terlalu banyak makan.

Pada saat yang sama, faktor genetik juga tidak berarti seseorang dapat mengalami kenaikan berat badan tanpa adanya faktor lain. Keseimbangan energi tetap memiliki peran penting dalam perubahan berat badan.

Berat Badan Berkaitan dengan Keseimbangan Energi

Tubuh memperoleh energi dari makanan dan minuman yang mengandung kalori. Energi tersebut kemudian digunakan untuk mempertahankan fungsi tubuh dan melakukan aktivitas.

Jika dalam jangka panjang energi yang masuk lebih banyak daripada energi yang digunakan, sebagian kelebihan energi dapat disimpan sebagai lemak. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menjelaskan bahwa makanan dan minuman, aktivitas fisik, kebiasaan sedentari, tidur, gen, obat-obatan, serta kondisi kesehatan semuanya dapat memengaruhi berat badan.

Karena itu, orang yang merasa sudah makan sedikit tetap perlu melihat apa yang dimakan, seberapa sering, aktivitas sehari-hari, pola tidur, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Jumlah makanan yang terlihat sedikit belum tentu memiliki jumlah kalori yang rendah.

Sebaliknya, makanan dengan kandungan serat dan air tinggi dapat memberikan rasa kenyang dengan kalori relatif lebih rendah.

Jangan Hanya Mengandalkan Timbangan

Berat badan juga tidak hanya menggambarkan jumlah lemak dalam tubuh.

Perubahan berat badan dapat dipengaruhi oleh cairan tubuh, massa otot, isi saluran pencernaan, serta berbagai faktor lainnya.

Karena itu, apabila berat badan terus meningkat meskipun seseorang merasa sudah melakukan perubahan pola makan dan aktivitas, sebaiknya tidak langsung menyalahkan diri sendiri.

Read More  Anak Picky Eater: Mengapa Pilih-Pilih Makanan, Bisa Berbahaya bagi Kesehatan

Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengetahui apakah terdapat faktor medis, penggunaan obat tertentu, atau masalah lain yang ikut berkontribusi terhadap perubahan berat badan.

NIDDK mencatat beberapa kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), sindrom Cushing, hipotiroidisme, serta sejumlah obat dapat berhubungan dengan kenaikan berat badan atau obesitas.

Obesitas Bukan Sekadar Masalah Penampilan

Dante menekankan bahwa obesitas seharusnya tidak dipandang hanya sebagai persoalan bentuk tubuh.

Menurutnya, obesitas merupakan penyakit yang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit jantung dan kanker.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut kelebihan berat badan dan obesitas berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, gangguan muskuloskeletal, serta beberapa jenis kanker.

Karena itu, pembahasan mengenai obesitas seharusnya tidak berhenti pada persoalan penampilan atau ukuran pakaian.

Yang jauh lebih penting adalah dampaknya terhadap kesehatan dalam jangka panjang.

Perubahan Pola Makan Tetap Menjadi Langkah Awal

Dante menyebut perubahan pola makan dapat membantu menurunkan berat badan sekitar 5 persen. Jika perubahan pola makan tersebut disertai olahraga dan gaya hidup sehat, penurunan berat badan dapat mencapai sekitar 5-10 persen.

Namun, kebutuhan setiap orang berbeda.

Tidak semua orang dengan obesitas dapat memperoleh hasil yang sama hanya dengan mengurangi makanan dan meningkatkan olahraga. Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penanganan lain berdasarkan kondisi kesehatan dan tingkat obesitas pasien.

Dante juga menjelaskan bahwa obat tertentu yang diresepkan dokter, seperti tirzepatide, dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus memperbaiki sejumlah parameter metabolik. Namun, penggunaan obat penurun berat badan harus berada dalam pengawasan tenaga medis.

Jadi, Apakah Minum Air Putih Bisa Membuat Gemuk?

Jawabannya tidak. Air putih sendiri tidak membuat tubuh menimbun lemak karena tidak memberikan kalori.

Read More  Dari Yunani hingga Indonesia, Dunia Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan yang Meningkat

Yang perlu dipahami adalah alasan seseorang merasa berat badannya mudah naik meski sudah membatasi makanan bisa sangat beragam. Faktor genetik memang dapat berperan, tetapi juga ada pengaruh pola makan, aktivitas fisik, tidur, obat-obatan, kondisi medis, lingkungan, dan faktor lainnya.

Karena itu, kalimat “saya makan sedikit tetapi tetap gemuk” tidak seharusnya langsung dianggap sebagai alasan atau pembenaran, tetapi juga tidak tepat jika langsung dianggap sebagai kurangnya kemauan untuk menjaga berat badan.

Obesitas adalah kondisi kompleks yang membutuhkan pendekatan menyeluruh.

Bagi orang yang mengalami kenaikan berat badan terus-menerus meskipun sudah melakukan perubahan gaya hidup, berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu mencari penyebab dan menentukan strategi yang lebih sesuai.

Pada akhirnya, tujuan pengelolaan obesitas bukan semata-mata mendapatkan tubuh yang lebih kurus, melainkan mencapai kondisi kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Back to top button