Tak Disangka, Manusia Bisa Hidup Tanpa 6 Organ Ini
Tubuh manusia ternyata memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Dalam kondisi tertentu, seseorang masih bisa bertahan hidup meski kehilangan atau harus menjalani pengangkatan enam organ, mulai dari usus buntu hingga kerongkongan.
Tubuh manusia memiliki banyak organ dengan fungsi yang berbeda-beda. Sebagian di antaranya berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup. Namun, ternyata ada sejumlah organ yang masih memungkinkan seseorang untuk tetap hidup meski harus diangkat melalui prosedur medis.
Pengangkatan organ biasanya dilakukan karena kondisi tertentu, seperti penyakit, cedera, kanker, atau komplikasi lainnya. Setelah organ diangkat, tubuh dapat beradaptasi dengan mengandalkan organ atau jaringan lain.
Meski demikian, hidup tanpa organ tertentu bukan berarti seseorang dapat menjalani kehidupan tanpa perubahan. Dalam beberapa kondisi, pasien perlu melakukan penyesuaian pola makan, menjalani pemeriksaan rutin, mengonsumsi suplemen, atau mendapatkan perawatan medis tertentu.
Berikut enam organ yang disebut masih memungkinkan manusia untuk hidup tanpanya.
1. Usus Buntu
Usus buntu atau apendiks merupakan kantong kecil yang berada di bagian awal usus besar. Hingga kini, fungsi apendiks pada manusia belum sepenuhnya dipahami.
Pengangkatan usus buntu umumnya dilakukan ketika terjadi peradangan atau apendisitis. Menurut ahli bedah invasif minimal Dr Indraneil Mukherjee, sebagian besar orang dapat kembali melakukan aktivitas normal setelah menjalani operasi pengangkatan usus buntu.
Dalam banyak kasus, pengangkatan organ ini tidak menyebabkan perubahan jangka panjang terhadap pola makan maupun aktivitas fisik.
2. Kantung Empedu
Kantung empedu merupakan organ kecil yang berada di bawah hati. Fungsinya adalah menyimpan empedu yang diproduksi hati dan membantu proses pencernaan lemak.
Seseorang dapat hidup tanpa kantung empedu, misalnya setelah menjalani operasi akibat batu empedu atau masalah lainnya.
Setelah kantung empedu diangkat, hati tetap memproduksi empedu. Bedanya, empedu akan dialirkan langsung ke usus kecil tanpa terlebih dahulu disimpan di kantung empedu.
Sebagian orang mungkin mengalami perubahan atau gangguan pencernaan pada masa awal setelah operasi. Namun, tubuh umumnya dapat menyesuaikan diri dalam beberapa minggu dan banyak pasien kemudian dapat menjalani aktivitas normal.
3. Ginjal
Manusia umumnya memiliki dua ginjal yang berfungsi menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme, serta membantu mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Namun, seseorang masih dapat hidup dengan satu ginjal. Kondisi ini dapat terjadi pada orang yang mendonorkan salah satu ginjalnya atau kehilangan fungsi salah satu ginjal akibat penyakit maupun cedera.
Menurut Dr Mukherjee, satu ginjal biasanya sudah cukup untuk menjalankan fungsi penyaringan darah bagi sebagian besar orang. Meski demikian, orang yang hanya memiliki satu ginjal tetap perlu menjaga kesehatan dan menjalani pemeriksaan rutin untuk memantau fungsi ginjal yang tersisa.
4. Lambung
Lambung memiliki peran dalam menyimpan dan mengolah makanan sebelum diteruskan ke usus. Organ ini juga membantu proses pencernaan melalui produksi asam, enzim, dan zat lain yang dibutuhkan tubuh.
Dalam kondisi tertentu, sebagian atau seluruh lambung dapat diangkat, misalnya akibat kanker, tukak lambung tertentu, atau sebagai bagian dari prosedur operasi penurunan berat badan.
Tanpa lambung, makanan akan langsung masuk ke usus kecil sehingga sistem pencernaan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pasien biasanya membutuhkan pengaturan pola makan dan dapat memerlukan suplemen, terutama vitamin, dalam jangka panjang.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah dumping syndrome, yaitu ketika makanan masuk terlalu cepat ke usus kecil dan menimbulkan berbagai keluhan pencernaan. Karena itu, hidup tanpa lambung tetap memungkinkan, tetapi membutuhkan pengawasan dan penyesuaian pola makan yang lebih ketat.
5. Limpa
Limpa terletak di bagian kiri atas perut dan memiliki peran dalam sistem kekebalan tubuh. Organ ini antara lain membantu menyaring darah serta menghilangkan sel darah yang sudah tua dan sejumlah organisme penyebab infeksi.
Limpa dapat diangkat melalui prosedur splenektomi, misalnya setelah mengalami cedera berat yang menyebabkan perdarahan internal atau karena kondisi medis tertentu.
Manusia masih dapat bertahan hidup tanpa limpa karena fungsi tertentu dapat diambil alih oleh organ dan jaringan lain. Namun, ada konsekuensi penting yang perlu diperhatikan.
Orang yang tidak memiliki limpa memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi tertentu. Karena itu, pasien yang menjalani pengangkatan limpa dapat membutuhkan vaksinasi dan pemantauan medis untuk menurunkan risiko infeksi serius.
6. Kerongkongan
Kerongkongan merupakan saluran berbentuk tabung yang menghubungkan tenggorokan dengan lambung dan berfungsi membawa makanan serta cairan menuju sistem pencernaan.
Pengangkatan kerongkongan merupakan prosedur yang jauh lebih kompleks dibandingkan pengangkatan beberapa organ lainnya. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat melakukan rekonstruksi menggunakan bagian lambung atau usus untuk membuat jalur baru bagi makanan.
Seseorang masih mungkin bertahan hidup tanpa kerongkongan, tetapi proses pemulihannya membutuhkan penanganan medis yang serius. Kemampuan menelan dapat mengalami perubahan dan pola makan perlu disesuaikan.
Pada masa pemulihan, pasien bahkan dapat membutuhkan selang makan untuk memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi.
Bukan Berarti Organ Tidak Penting
Kemampuan manusia untuk hidup tanpa organ tertentu bukan berarti organ tersebut tidak memiliki fungsi penting.
Setiap organ memiliki peran dalam menjaga keseimbangan tubuh. Ketika salah satu organ diangkat, tubuh harus melakukan penyesuaian atau mengandalkan organ dan jaringan lain untuk mengambil alih sebagian fungsinya.
Karena itu, kondisi hidup tanpa organ sangat bergantung pada organ yang diangkat, alasan pengangkatan, kondisi kesehatan pasien, serta perawatan setelah operasi.
Pada beberapa kasus, seseorang dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, pada kondisi lainnya diperlukan perubahan pola makan, konsumsi suplemen, obat-obatan, pemeriksaan rutin, atau pengawasan medis dalam jangka panjang.





