Emosi Saat Berkendara Bisa Picu Bahaya, Ini Cara Mengendalikannya
Emosi saat berkendara, seperti marah, terburu-buru, atau terlalu percaya diri, dapat memicu tindakan berbahaya dan meningkatkan risiko kecelakaan di jalan.
Berkendara di jalan raya tidak hanya membutuhkan kemampuan mengendalikan kendaraan, tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi. Rasa terburu-buru, kesal akibat kemacetan hingga perilaku pengendara lain yang dianggap membahayakan dapat memicu emosi dan berujung pada tindakan yang membahayakan keselamatan.
Topik mengenai pengelolaan emosi saat berkendara ini dibahas oleh Mitsubishi Motors Indonesia melalui artikel edukasinya. Dalam artikel tersebut, pembalap nasional sekaligus driving instructor dan Brand Ambassador Mitsubishi Motors Indonesia, Rifat Sungkar, mengingatkan bahwa pengemudi yang berada dalam kondisi marah atau terlalu percaya diri dapat membahayakan pengguna jalan lainnya.
Menurut Rifat, pengemudi yang sedang marah berpotensi menjadikan kendaraan atau pengguna jalan lain sebagai sasaran benturan. Sebaliknya, rasa percaya diri yang berlebihan terhadap kemampuan mengemudi maupun kondisi kendaraan juga dapat membuat seseorang meremehkan pengendara lain.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa emosi saat berkendara bukan persoalan sepele. Ketika emosi meningkat, seseorang dapat mengambil keputusan secara terburu-buru dan kurang mempertimbangkan risiko.
Karena itu, pengemudi perlu menerapkan prinsip defensive driving atau berkendara secara defensif. Teknik ini mengutamakan pencegahan terhadap berbagai kemungkinan buruk di jalan, termasuk dengan mengelola emosi dan menghargai pengguna jalan lainnya.
Jangan Menganggap Jalan Raya Milik Sendiri
Salah satu cara sederhana untuk mengendalikan emosi adalah mengubah cara pandang terhadap jalan raya. Jalan merupakan ruang yang digunakan bersama sehingga setiap pengendara perlu memberikan ruang kepada pengguna jalan lainnya.
Ketika ada kendaraan yang berjalan lebih lambat, berpindah jalur atau melakukan kesalahan, pengemudi sebaiknya tidak langsung bereaksi secara agresif. Menjaga jarak dan memberikan kesempatan kepada kendaraan lain dapat mengurangi potensi konflik.
Pengemudi juga disarankan tidak mudah terprovokasi oleh perilaku pengendara lain yang membahayakan. Membalas tindakan agresif dengan tindakan serupa justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Berangkat Lebih Awal
Rasa terburu-buru merupakan salah satu kondisi yang dapat memengaruhi emosi pengemudi. Karena itu, waktu perjalanan sebaiknya diperhitungkan sejak awal.
Dengan berangkat lebih awal, pengemudi memiliki waktu untuk menghadapi kemacetan atau hambatan perjalanan tanpa harus merasa dikejar waktu.
Ketika terjebak macet, pengemudi juga disarankan menganggap kemacetan sebagai bagian dari perjalanan yang memang harus dihadapi. Cara berpikir tersebut dapat membantu mengurangi rasa frustrasi selama berkendara.
Jangan Membalas Pengendara Agresif
Ketika bertemu pengendara yang melakukan manuver berbahaya, membunyikan klakson secara berlebihan atau memotong jalur, pengemudi sebaiknya tidak terpancing.
Mengikuti atau mengejar kendaraan yang dianggap melakukan kesalahan justru dapat memperbesar risiko kecelakaan.
Lebih baik menjaga jarak, memberikan ruang dan kembali berkonsentrasi pada perjalanan.
Musik Bisa Membantu Lebih Rileks
Mendengarkan musik favorit dengan volume yang tidak terlalu keras juga dapat menjadi salah satu cara menjaga suasana hati selama perjalanan. Musik dapat membantu membuat perjalanan terasa lebih santai, terutama ketika harus menghadapi perjalanan panjang atau kemacetan.
Namun, volume musik tetap perlu diperhatikan agar pengemudi masih dapat mendengar kondisi di sekitar kendaraan, seperti suara klakson atau sirene kendaraan darurat.
Teman Perjalanan Bisa Mengurangi Kebosanan
Jika memungkinkan, mengajak teman dalam perjalanan juga dapat membantu mengurangi rasa bosan. Percakapan ringan selama perjalanan dapat membuat suasana lebih santai.
Meski demikian, penumpang sebaiknya tidak mengganggu konsentrasi pengemudi. Fokus utama tetap harus berada pada kondisi jalan dan keselamatan seluruh penumpang.
Persiapkan Perjalanan untuk Mengurangi Stres
Persiapan sebelum berkendara juga dapat membantu mengurangi kecemasan. Pengemudi dapat memeriksa kondisi kendaraan, memperkirakan waktu tempuh dan mengetahui rute yang akan dilewati.
Mitsubishi Motors Indonesia juga menyarankan pemilik kendaraannya memanfaatkan aplikasi My Mitsubishi Motors ID (MMID) untuk membantu ketika kendaraan membutuhkan bantuan teknis.
Pada akhirnya, keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada kondisi kendaraan atau kemampuan teknis pengemudi. Kemampuan mengendalikan diri juga menjadi bagian penting dari keselamatan di jalan.
Jangan sampai rasa marah karena pengendara lain, terburu-buru mengejar waktu atau terlalu percaya diri membuat seseorang mengambil keputusan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Tetap tenang, jangan mudah terprovokasi dan selalu ingat bahwa jalan raya digunakan bersama. Berkendara dengan emosi yang terkendali bukan hanya membuat perjalanan lebih nyaman, tetapi juga membantu menciptakan lalu lintas yang lebih aman





