FintalkUpdate News

Obesitas Anak Berpotensi Rugikan Ekonomi Indonesia hingga Rp 5.287 Triliun

Obesitas pada anak berpotensi merugikan perekonomian Indonesia hingga Rp 5.287 triliun apabila tidak dicegah sejak dini.

Angka yang fantastis tersebut menunjukkan bahwa obesitas anak bukan lagi sekadar persoalan berat badan berlebih, melainkan ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi Indonesia di masa depan. Kerugian ekonomi itu diperkirakan terjadi sepanjang masa hidup kelompok anak yang terdampak obesitas dan kelebihan berat badan akibat meningkatnya biaya kesehatan, menurunnya produktivitas, hingga hilangnya potensi pendapatan.

Studi Cost of Inaction yang dilakukan bersama UNICEF Indonesia, University of Lausanne, dan Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa kegagalan menerapkan kebijakan yang efektif untuk mencegah obesitas anak dapat menimbulkan kerugian ekonomi hingga 294 miliar dollar AS atau sekitar Rp 5.287 triliun.

Masalah ini menjadi semakin mengkhawatirkan karena prevalensi obesitas pada anak di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hampir satu dari lima anak usia 5 hingga 12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular sejak usia dini, mulai dari diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan jantung, hingga masalah kesehatan mental akibat stigma sosial yang dialami anak.

Associate Director Market Access and Public Affairs Novo Nordisk Indonesia, Banarsono Trimandojo, mengatakan investasi pada kesehatan anak merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa.

“Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas kesehatan generasi mudanya. Oleh karena itu, segala upaya dan investasi untuk meningkatkan kesehatan anak harus dimulai sedini mungkin,” ujarnya.

Menurut Banarsono, pencegahan obesitas sejak dini dan penguatan layanan kesehatan bagi anak dengan diabetes tipe 1 merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengurangi beban ekonomi di masa depan.

Read More  Gen Z Kuasai Pasar Kripto RI, Tapi OJK Ingatkan Bahaya FOMO dan Minimnya Literasi

Peningkatan angka obesitas anak di Indonesia tidak terlepas dari perubahan pola hidup masyarakat. Anak-anak kini semakin mudah mengakses makanan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak, sementara aktivitas fisik justru semakin berkurang. Lingkungan yang mendorong konsumsi makanan tidak sehat dan minimnya aktivitas fisik menjadi faktor utama meningkatnya kasus obesitas di berbagai kelompok usia.

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa obesitas pada masa anak-anak dapat berlanjut hingga usia dewasa apabila tidak ditangani dengan baik. Dampaknya bukan hanya dirasakan individu yang mengalami obesitas, tetapi juga keluarga, sistem kesehatan nasional, hingga produktivitas ekonomi suatu negara.

Karena itu, penanganan obesitas anak membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif. Tidak cukup hanya mengandalkan edukasi kepada orang tua dan anak, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan publik yang mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat.

UNICEF Indonesia menyebutkan terdapat sejumlah intervensi berbasis bukti yang dapat membantu menekan angka obesitas anak, antara lain penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan, pelabelan gizi yang lebih informatif pada bagian depan kemasan produk pangan, serta pembatasan pemasaran makanan dan minuman tidak sehat kepada anak-anak.

Di tingkat lapangan, kolaborasi berbagai pihak juga terus dilakukan melalui program intervensi berbasis sekolah yang mencakup edukasi gizi, promosi aktivitas fisik, penyediaan pilihan makanan sehat di kantin sekolah, pengembangan kebun sekolah, hingga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di layanan primer. Program semacam ini telah menjangkau puluhan ribu anak di berbagai provinsi di Indonesia.

Ancaman obesitas anak menjadi pengingat bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan kualitas generasi mudanya. Sebab, mencegah obesitas hari ini bukan hanya menyelamatkan kesehatan anak, melainkan juga menjaga produktivitas dan daya saing Indonesia pada masa depan.

Back to top button