4 dari 10 Orang Indonesia Belum Pakai Smartphone, Apa Penyebabnya?
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, sekitar empat dari 10 orang Indonesia ternyata belum menggunakan smartphone
Penggunaan smartphone di Indonesia memang terus berkembang, tetapi tingkat kepemilikannya belum sepenuhnya merata. Riset GSMA yang dikutip Kompas.com menunjukkan masih ada sekitar 40 persen masyarakat Indonesia yang belum menggunakan smartphone.
Angka tersebut menjadi menarik karena smartphone saat ini bukan lagi sekadar alat untuk berkomunikasi. Perangkat tersebut telah menjadi pintu masuk ke berbagai layanan digital, mulai dari perbankan, perdagangan, pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, hingga media sosial.
Dengan demikian, mereka yang belum memiliki atau menggunakan smartphone berpotensi menghadapi keterbatasan dalam mengakses berbagai layanan yang semakin terdigitalisasi.
Smartphone Belum Merata di Indonesia
Besarnya jumlah masyarakat yang belum menggunakan smartphone menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital belum otomatis berarti seluruh masyarakat telah menikmati manfaat teknologi.
Secara global, GSMA sebelumnya juga mencatat adanya kesenjangan penggunaan internet seluler. Meskipun cakupan jaringan broadband seluler telah mencapai sebagian besar populasi dunia, masih banyak orang yang tinggal di wilayah dengan jaringan tersedia tetapi belum menggunakannya.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara tersedianya jaringan dan kemampuan masyarakat memanfaatkan jaringan tersebut.
Indonesia menghadapi persoalan serupa. Pembangunan jaringan telekomunikasi memang penting, tetapi masyarakat juga harus memiliki perangkat, kemampuan digital, serta alasan yang cukup kuat untuk menggunakan internet.
Mengapa Masih Banyak yang Belum Menggunakan Smartphone?
Harga perangkat menjadi salah satu faktor yang sangat mungkin memengaruhi keputusan masyarakat.
Bagi sebagian kelompok masyarakat, membeli smartphone baru bukanlah prioritas ketika pendapatan harus digunakan terlebih dahulu untuk kebutuhan pokok.
Selain harga perangkat, biaya koneksi internet juga menjadi pertimbangan. Smartphone membutuhkan akses jaringan agar sebagian besar fungsinya dapat digunakan secara optimal. Karena itu, keterjangkauan perangkat dan paket data sama-sama penting dalam memperluas inklusi digital.
GSMA dalam berbagai kajiannya mengenai konektivitas juga menyoroti faktor keterjangkauan perangkat, keterampilan digital, keamanan, dan relevansi konten sebagai sejumlah hambatan penggunaan internet seluler.
Bukan Hanya Soal Punya atau Tidak Punya HP
Persoalan kesenjangan digital tidak berhenti pada kepemilikan perangkat. Seseorang bisa saja memiliki smartphone, tetapi belum tentu mampu memanfaatkannya untuk kegiatan produktif.
Kemampuan menggunakan aplikasi perbankan, melakukan transaksi digital, menjaga keamanan akun, mencari informasi yang dapat dipercaya, hingga mengenali penipuan daring merupakan bagian dari literasi digital.
Karena itu, program pemerataan digital perlu memperhatikan dua aspek sekaligus, yakni akses terhadap teknologi dan kemampuan menggunakannya.
Tanpa literasi yang memadai, smartphone justru dapat menjadi pintu masuk terhadap berbagai risiko, seperti penipuan, pencurian data, perjudian online, hingga penyebaran informasi palsu.
Smartphone Semakin Penting dalam Kehidupan Sehari-hari
Perubahan perilaku masyarakat membuat smartphone semakin sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Masyarakat kini dapat membuka rekening, membayar tagihan, membeli barang, memesan transportasi, melakukan pembayaran menggunakan QRIS, hingga mengakses layanan pemerintah melalui perangkat seluler.
Bagi pelaku UMKM, smartphone juga dapat menjadi alat untuk memasarkan produk dan berkomunikasi dengan pelanggan.
Karena itu, kesenjangan kepemilikan smartphone pada akhirnya juga berpotensi menjadi kesenjangan kesempatan ekonomi.
Mereka yang memiliki perangkat dan kemampuan digital dapat lebih mudah memanfaatkan berbagai peluang yang muncul dari ekonomi digital.
Daerah Terpencil Masih Menghadapi Tantangan
Pemerataan penggunaan smartphone juga berkaitan dengan kondisi geografis Indonesia.
Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau, membangun infrastruktur telekomunikasi hingga wilayah terpencil membutuhkan investasi yang tidak kecil.
Di kawasan perkotaan, masyarakat relatif lebih mudah mendapatkan jaringan dan membeli perangkat. Sementara di daerah dengan akses transportasi dan infrastruktur terbatas, harga perangkat maupun biaya konektivitas dapat menjadi lebih mahal.
Karena itu, pemerataan digital membutuhkan kerja sama antara pemerintah, operator telekomunikasi, produsen perangkat, serta berbagai pihak dalam ekosistem digital.
Ponsel Murah Bisa Membantu, tetapi Bukan Satu-satunya Solusi
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperluas kepemilikan smartphone adalah menghadirkan perangkat dengan harga lebih terjangkau.
GSMA sendiri pada 2026 mendorong pengembangan perangkat 4G murah untuk memperluas akses internet. Salah satu inisiatif yang diberitakan pada Maret 2026 menargetkan perluasan akses internet kepada sekitar 20 juta orang.
Namun, smartphone murah tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan jika masyarakat masih kesulitan mendapatkan jaringan atau tidak memiliki kemampuan menggunakan teknologi tersebut.
Artinya, pemerataan digital harus dilakukan secara menyeluruh.
Jangan Sampai Digitalisasi Justru Memperlebar Kesenjangan
Digitalisasi seharusnya membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih mudah, bukan menciptakan kelompok baru yang tertinggal karena tidak mampu mengakses teknologi.
Ketika layanan publik, transaksi keuangan, pendidikan, hingga perdagangan semakin bergeser ke platform digital, masyarakat yang tidak memiliki perangkat dan kemampuan digital berisiko semakin sulit mengikuti perubahan.
Karena itu, angka empat dari 10 orang Indonesia yang belum menggunakan smartphone seharusnya tidak hanya dilihat sebagai peluang pasar bagi produsen ponsel.
Angka tersebut juga menjadi pengingat bahwa transformasi digital Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar.
Pemerataan jaringan harus berjalan bersama dengan penyediaan perangkat yang terjangkau, koneksi internet yang masuk akal, peningkatan literasi digital, dan perlindungan masyarakat dari risiko di ruang digital.
Dengan pendekatan tersebut, kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat yang sudah terkoneksi, tetapi juga dapat membuka kesempatan bagi mereka yang hingga kini masih berada di luar ekosistem digital.





