Safe and SecureUpdate News

Biaya Perbaikan Mobil Listrik Ternyata Bukan pada Baterai, Ini Komponen yang Paling Menguras Kantong

Studi terbaru mengungkap komponen mobil listrik yang paling mahal diperbaiki bukanlah baterai.

Baterai selama ini dianggap sebagai komponen yang paling menakutkan dan paling mahal jika mengalami kerusakan pada mobil listrik, padahal sebuah studi terbaru justru menunjukkan fakta yang berbeda.

Studi yang dilakukan Warrantywise di Inggris menemukan bahwa biaya perbaikan terbesar pada mobil listrik lebih sering berasal dari komponen lain seperti sistem kelistrikan, suspensi hingga onboard charger, sedangkan kerusakan baterai traksi justru relatif jarang terjadi.

Temuan tersebut cukup menarik karena salah satu alasan masyarakat Indonesia masih ragu membeli mobil listrik adalah kekhawatiran terhadap mahalnya biaya penggantian baterai. Faktanya, komponen yang lebih sering mengalami gangguan justru bukan baterai utama kendaraan.

Berdasarkan analisis data klaim garansi Warrantywise, kerusakan yang paling banyak ditemukan adalah gangguan pada sistem kelistrikan umum seperti sensor elektronik, modul kontrol, hingga sistem central locking. Rata-rata biaya perbaikannya berkisar antara 810 hingga 900 poundsterling atau sekitar Rp19,5 juta hingga Rp21,7 juta. Bahkan dalam beberapa kasus, biaya perbaikannya dapat mencapai lebih dari Rp96 juta tergantung tingkat kerusakannya.

Komponen berikutnya yang cukup sering menguras kantong pemilik kendaraan adalah sektor suspensi, terutama pada bagian wishbone atau lengan ayun. Rata-rata biaya perbaikannya mencapai lebih dari Rp29 juta dengan nilai klaim tertinggi yang pernah diajukan mencapai sekitar Rp99 juta.

Menurut Warrantywise, bobot mobil listrik yang lebih berat akibat penggunaan paket baterai membuat komponen suspensi bekerja lebih keras dibandingkan kendaraan konvensional sehingga potensi keausannya menjadi lebih besar.

Read More  Kemacetan Lalu Lintas: Kerugian Ekonomi dan Dampak Kesehatan yang Mengkhawatirkan

Yang menarik, salah satu komponen khusus mobil listrik dengan biaya perbaikan yang sangat mahal justru berasal dari onboard charger, yaitu perangkat yang berfungsi mengubah arus listrik AC menjadi DC saat proses pengisian daya baterai. Meski kerusakannya tidak terlalu sering terjadi, rata-rata biaya perbaikannya mencapai sekitar Rp52 juta. Bahkan nilai klaim tertinggi yang pernah tercatat mencapai sekitar Rp252 juta.

Lalu bagaimana dengan baterai mobil listrik?

Warrantywise mencatat baterai traksi tegangan tinggi justru tidak masuk dalam lima besar komponen yang paling sering mengalami kerusakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi baterai mobil listrik modern memiliki tingkat keandalan yang cukup tinggi. Selain itu, sebagian besar produsen kendaraan listrik juga memberikan garansi baterai yang jauh lebih panjang dibandingkan komponen lainnya.

Meski demikian, apabila baterai benar-benar mengalami kerusakan di luar masa garansi, biaya perbaikannya memang tidak murah. Rata-rata nilai klaim yang tercatat mencapai lebih dari Rp154 juta.

Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi calon pembeli mobil listrik di Indonesia. Selama ini sebagian besar konsumen hanya fokus menanyakan garansi baterai sebelum membeli kendaraan listrik. Padahal, ada sejumlah komponen lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan.

Sebelum membeli mobil listrik, konsumen sebaiknya juga memastikan ketersediaan suku cadang, jaringan layanan purna jual, biaya penggantian komponen kelistrikan, serta masa garansi yang diberikan produsen untuk berbagai komponen kendaraan.

Selain itu, calon pembeli mobil listrik bekas juga perlu memperhatikan kondisi sistem suspensi kendaraan. Mobil listrik yang digunakan setiap hari di jalan dengan kondisi kurang baik tentu memiliki tingkat keausan yang berbeda dibandingkan kendaraan yang lebih banyak digunakan di perkotaan.

Temuan studi ini juga mematahkan anggapan bahwa seluruh biaya perawatan mobil listrik selalu berkaitan dengan baterai. Pada kenyataannya, mobil listrik tetap memiliki banyak komponen mekanis dan elektronik yang dapat mengalami keausan seiring waktu sebagaimana mobil bermesin pembakaran internal.

Read More  Jalan Kaki Setelah Makan Terbukti Efektif Menurunkan Gula Darah

Karena itu, keputusan membeli mobil listrik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada besarnya kapasitas baterai atau jarak tempuh kendaraan. Ketersediaan layanan purna jual, biaya perbaikan komponen lain, hingga lamanya masa garansi justru menjadi faktor yang tidak kalah penting untuk dipertimbangkan.

Dengan semakin berkembangnya pasar kendaraan listrik di Indonesia, pemahaman mengenai biaya kepemilikan kendaraan secara menyeluruh menjadi hal yang perlu diperhatikan konsumen. Sebab, biaya terbesar yang harus dikhawatirkan pemilik mobil listrik ternyata tidak selalu berasal dari baterai, melainkan bisa datang dari komponen lain yang selama ini luput dari perhatian.

Back to top button