Safe and SecureUpdate News

Indonesia Uji Coba B50 di Kereta, Jadi yang Pertama di Dunia

Indonesia uji coba biodiesel B50 pada kereta api dan jadi yang pertama di dunia. Program ini ditargetkan berlaku nasional mulai Juli 2026.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi melakukan uji coba penggunaan bahan bakar biodiesel B50 pada moda transportasi kereta api. Uji coba perdana ini dilakukan di Stasiun Lempuyangan sebagai bagian dari persiapan implementasi nasional.

B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dan 50 persen solar fosil. Program ini ditargetkan mulai diterapkan secara nasional pada 1 Juli 2026 sebagai langkah strategis menuju transisi energi yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan, sektor perkeretaapian dipilih karena merupakan transportasi massal dengan konsumsi bahan bakar yang besar. Uji coba ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata terkait performa dan efisiensi B50 dalam operasional sehari-hari.

Pengujian dilakukan melalui dua skema utama, yakni pada genset kereta dan lokomotif. Untuk genset, pengujian dilakukan pada rute Jakarta–Yogyakarta selama 2.400 jam, sementara lokomotif diuji pada rute Jakarta–Surabaya selama enam bulan. Uji coba ini ditargetkan rampung pada Oktober 2026.

Menariknya, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mengembangkan dan menguji bahan bakar dengan komposisi biodiesel setinggi ini. Bahkan, program B50 disebut sebagai hasil pengembangan panjang lebih dari 15 tahun dan kini menjadi rujukan global.

“B50 ini hanya ada di Indonesia, dan kita saat ini capaiannya sudah nomor satu di dunia,” ujar Eniya.

Read More  Google Veo 3 Resmi Hadir di Indonesia: Kreator Bisa Bikin Video Seperti Sutradara Hollywood

Sejauh ini, uji coba B50 juga telah dilakukan di berbagai sektor lain seperti otomotif, pertambangan, alat pertanian, perkapalan, hingga pembangkit listrik sejak akhir 2025. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis sebelum implementasi penuh di seluruh sektor.

Program B50 sendiri diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada impor solar, serta meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit dalam negeri.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi, seperti kesiapan infrastruktur, pasokan biodiesel, hingga dampaknya terhadap performa mesin. Evaluasi menyeluruh dari hasil uji coba ini akan menjadi kunci keberhasilan implementasi B50 secara nasional.

Back to top button