HealthcareUpdate News

Minum Es atau Teh Panas Setelah Makan Bisa Picu Masalah Pencernaan, Dokter Ingatkan Bahayanya

Minum es teh atau teh panas segera setelah makan besar bisa ganggu pencernaan dan penyerapan nutrisi; dokter menyarankan menunggu 30–60 menit setelah makan.

Minum teh menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya makan di Indonesia — baik sebagai teman makan siang, santai sore, maupun penutup setelah jamuan makan besar. Namun, kebiasaan menikmati es teh atau teh panas segera setelah makan perlu diperhatikan karena bisa berdampak negatif bagi sistem pencernaan, terutama jika dilakukan secara konsisten.

Para ahli kesehatan menyampaikan bahwa konsumsi teh dalam jumlah besar setelah makan dapat mengganggu proses pencernaan makanan, terutama bila diminum dalam bentuk yang terlalu dingin atau terlalu panas. Kondisi ini dapat menyebabkan kontraksi lambung yang kurang optimal, sehingga makanan tidak dicerna secara efektif dan bisa memicu kembung, perut tidak nyaman, bahkan perut terasa penuh.

Selain itu, teh mengandung kafein dan tanin, dua zat yang dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dari makanan, terutama makanan yang kaya zat besi non-hemea seperti sayur-sayuran, biji-bijian, atau kacang-kacangan. Kandungan tanin pada teh dapat mengikat mineral tersebut, sehingga penyerapan nutrisi menjadi kurang optimal apabila dikonsumsi bersamaan dengan makanan. Efek ini terutama penting diperhatikan oleh mereka yang berisiko anemia atau memiliki kebutuhan zat besi tinggi seperti ibu hamil dan remaja.

Kebiasaan minum es teh juga memiliki risiko tersendiri. Minuman yang terlalu dingin dapat menyebabkan kontraksi tiba-tiba pada otot saluran cerna, sehingga memperlambat proses pencernaan dan berpotensi menimbulkan kram perut atau gangguan gastrointestinal ringan. Di sisi lain, minum teh yang terlalu panas setelah makan juga tidak dianjurkan karena suhu ekstrem dapat mengiritasi lapisan lambung yang baru bekerja memproses makanan.

Read More  DBS: Resiliensi Ekonomi Indonesia Terjaga di Tengah Pemangkasan Suku Bunga BI

Dokter spesialis gizi klinik menyarankan agar konsumen lebih bijak dalam memilih waktu dan cara mengonsumsi teh. Untuk mendukung proses pencernaan yang sehat, sebaiknya menunggu sekitar 30–60 menit setelah makan besar sebelum minum teh, sehingga sistem pencernaan memiliki waktu awal untuk memproses makanan tanpa gangguan suhu atau zat-zat yang dapat menghambat penyerapan nutrisi.

Alternatif yang lebih aman adalah menikmati teh pada waktu di luar jadwal makan — misalnya sebagai minuman sore atau saat santai di antara waktu makan. Pilihan teh herbal tanpa kafein seperti chamomile atau jahe juga dapat membantu merelaksasi perut dan mendukung pencernaan, tanpa risiko mengikat zat besi atau memicu kontraksi lambung yang tidak diinginkan.

Intinya, meskipun teh merupakan minuman yang nikmat dan populer di Indonesia, kebiasaan meminumnya langsung setelah makan besar perlu diwaspadai. Menunda minum teh dan memilih waktu konsumsi yang lebih tepat dapat membantu menjaga pencernaan tetap sehat dan memaksimalkan penyerapan nutrisi dari makanan.

Back to top button