Masyarakat Indonesia Menua, Rerencanakan Pensiun Sejak Dini
Di tengah cepatnya perubahan demografi dan meningkatnya populasi lansia, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation mendorong masyarakat merencanakan pensiun sejak dini melalui kampanye “Pensiun Gak Susah”
Fenomena masyarakat menua kini menjadi tantangan nyata di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Di saat struktur demografi berubah dengan cepat, kesiapan masyarakat dalam menghadapi masa pensiun dinilai masih tertinggal. Menyikapi kondisi tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat untuk mulai merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan pensiun yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna.
Urgensi perencanaan pensiun semakin terasa jika melihat proyeksi demografi Indonesia ke depan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2035 lebih dari 14 persen penduduk Indonesia diperkirakan berusia di atas 60 tahun. Angka tersebut bahkan diproyeksikan meningkat menjadi 20 persen atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045. Perubahan ini menandai pergeseran signifikan struktur penduduk seiring menyusutnya bonus demografi. Dalam konteks tersebut, kebutuhan akan ekosistem, kebijakan, dan infrastruktur pendukung menjadi semakin penting untuk memastikan proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif, sehingga kelompok lanjut usia tetap dapat berkontribusi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Sejalan dengan aspirasi Best Bank for a Better World, DBS Foundation secara konsisten menjadikan isu ageing society sebagai salah satu fokus utama. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa meningkatnya usia harapan hidup harus diiringi dengan kualitas hidup yang baik, sehingga setiap individu dapat menjalani proses menua secara bermartabat, berdaya, dan bermakna.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menegaskan bahwa perubahan demografi menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang baru dipikirkan menjelang usia senja, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan. Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua melalui panduan dan wawasan menyeluruh agar masyarakat dapat merencanakan pensiun secara holistik dan menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal bagi masyarakat dalam merencanakan kebutuhan pensiun secara lebih terarah. Kalkulator ini membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya untuk kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan saat pensiun. Inisiatif ini sejalan dengan misi Live more, Bank less, yang bertujuan menyederhanakan perencanaan keuangan agar masyarakat lebih fokus menjalani hidup dengan tenang dan percaya diri.
Sebagai ilustrasi, seseorang berusia 30 tahun yang berencana pensiun pada usia 55 tahun dan memiliki harapan hidup hingga 71 tahun, dengan tabungan dan investasi awal serta kontribusi rutin setiap bulan, diperkirakan membutuhkan dana pensiun lebih dari Rp2,5 miliar. Perhitungan ini mempertimbangkan inflasi sekitar 3,1 persen dan imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57 persen, serta mencakup kebutuhan dasar seperti makanan dan utilitas hingga kebutuhan gaya hidup seperti rekreasi dan olahraga. Gambaran ini menunjukkan bahwa perencanaan pensiun membutuhkan perhitungan matang sejak usia produktif.
Namun, kesiapan pensiun tidak hanya soal dana. Bagi banyak orang, masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran sosial, dan rasa tujuan hidup. Tanpa perencanaan yang matang, transisi ini kerap terasa mengejutkan dan menantang. Karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun tetap dijalani secara aktif, bermakna, dan produktif.
Founder & CEO QM Financial, Ligwina Hananto, menilai banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu kondisi yang dianggap ideal. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Ia menyarankan pendekatan sederhana namun disiplin, seperti formula pengelolaan pendapatan 10/20/30/40, agar strategi keuangan tetap adaptif dan mampu tumbuh seiring perubahan fase hidup.
Di sisi lain, urgensi perencanaan pensiun juga berkaitan erat dengan berkembangnya silver economy atau ekonomi lansia. Laporan CIO Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang” mencatat lonjakan usia harapan hidup manusia dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini. Tren ini mendorong peningkatan kebutuhan layanan kesehatan, sistem pensiun, hingga produk dan layanan yang dirancang khusus untuk kelompok usia lanjut.
Ekonomi lansia mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup. Dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar secara global, silver economy berada di titik emas dan menawarkan peluang strategis yang semakin relevan, baik bagi dunia usaha maupun investor. Dalam konteks ini, perencanaan pensiun yang matang bukan hanya kunci kesejahteraan individu, tetapi juga bagian penting dari kesiapan ekonomi menghadapi era masyarakat menua.





