HealthcareUpdate News

Seberapa Sering BAB yang Normal? Ini Penjelasan

Frekuensi buang air besar (BAB) bisa berbeda pada setiap orang, ada rentang normal yang menjadi indikator penting kesehatan pencernaan dan metabolisme tubuh.

Pertanyaan tentang seberapa sering BAB yang normal kerap muncul dalam percakapan sehari-hari. Ada yang merasa harus BAB setiap hari agar sehat, sementara yang lain khawatir jika tidak BAB dua hari berturut-turut. Lalu, mana yang benar?

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi, dr. Ari Fahrial Syam, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa frekuensi BAB normal sebenarnya cukup bervariasi.

“Secara umum, frekuensi BAB yang masih dianggap normal adalah tiga kali sehari sampai tiga kali seminggu,” ujar dr. Ari dalam berbagai edukasi kesehatan yang dipublikasikan media nasional.

Namun, frekuensi dan pola buang air besar (BAB) bukan sekadar rutinitas harian. Keduanya merupakan salah satu indikator penting kesehatan tubuh, terutama sistem pencernaan dan metabolisme.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports Medicine mengungkap temuan menarik tentang seberapa sering seseorang BAB dan kaitannya dengan risiko penyakit kronis. Seperti disadur dari SELF Magazine, Sabtu (28/2/2026), penelitian ini menganalisis data 1.425 orang dewasa yang melaporkan frekuensi BAB mereka setiap hari.

Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang paling sehat umumnya BAB satu hingga dua kali sehari. Pola ini dikaitkan dengan keseimbangan mikrobiota usus yang lebih baik serta risiko gangguan metabolik yang lebih rendah dibandingkan mereka yang terlalu jarang atau terlalu sering BAB.

Meski demikian, dr. Ari menegaskan bahwa angka tersebut bukan patokan mutlak. “Yang lebih penting adalah konsistensi sesuai kebiasaan tubuh masing-masing dan tidak ada keluhan lain seperti nyeri, darah pada tinja, atau perubahan drastis,” jelasnya.

Read More  Korlantas Catat Penurunan Kecelakaan Sepanjang 2025, Pengguna Jalan Tetap Diminta Waspada

Dalam praktik klinis, dokter juga memperhatikan bentuk dan konsistensi tinja, bukan hanya frekuensi. Tinja yang terlalu keras bisa menandakan konstipasi, sedangkan yang terlalu cair bisa mengarah pada diare atau gangguan penyerapan nutrisi.

Faktor yang memengaruhi frekuensi BAB antara lain asupan serat, konsumsi air putih, aktivitas fisik, pola tidur, hingga tingkat stres. Pola makan rendah serat dan kurang minum sering menjadi penyebab utama konstipasi pada masyarakat perkotaan.

“Perbanyak konsumsi serat dari sayur dan buah, cukup minum air putih, serta rutin berolahraga agar pergerakan usus tetap optimal,” tambah dr. Ari Fahrial Syam.

Dengan memahami bahwa frekuensi BAB normal berada dalam rentang yang cukup luas — namun studi terbaru menunjukkan satu hingga dua kali sehari cenderung ideal — masyarakat diharapkan tidak mudah panik. Selama tidak ada gejala yang mengganggu dan pola tersebut konsisten, kondisi itu masih termasuk wajar.

Namun, bila terjadi perubahan signifikan yang berlangsung lebih dari dua minggu, atau muncul gejala lain seperti nyeri hebat, penurunan berat badan tanpa sebab, atau darah pada tinja, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah paling aman.

Back to top button