HealthcareUpdate News

Waspada Takjil Berbahaya! Bedakan Pewarna Alami dan Buatan untuk Buka Puasa

Masyarakat diimbau untuk lebih jeli dalam memilih kudapan takjil guna menghindari ancaman bahan kimia berbahaya seperti pewarna tekstil yang sering disalahgunakan dalam makanan.

Memasuki bulan suci Ramadan, berburu takjil telah menjadi ritual yang paling dinanti oleh masyarakat Indonesia, namun di balik kemeriahan pasar kaget tersebut, terdapat risiko kesehatan yang nyata jika kita tidak waspada terhadap tampilan makanan yang terlalu menggoda.

Keamanan pangan kini menjadi isu krusial karena maraknya penggunaan zat pewarna non-pangan, seperti Rhodamin B atau Metanil Yellow, yang sering kali sengaja ditambahkan oleh oknum pedagang nakal demi mempercantik rupa kue basah, sirup, hingga kudapan tradisional agar terlihat lebih segar dan menarik perhatian pembeli.

Untuk membedakan antara pewarna alami dan buatan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memperhatikan intensitas cahayanya; pewarna buatan yang berbahaya biasanya menghasilkan warna yang sangat tajam, cenderung neon atau berpendar, serta sering kali meninggalkan bekas warna (stain) yang sulit hilang di lidah, gigi, maupun tenggorokan setelah dikonsumsi.

Sebaliknya, pewarna alami yang berasal dari bahan organik seperti kunyit untuk warna kuning, daun pandan atau suji untuk hijau, serta bunga telang atau buah naga untuk rona merah dan ungu, biasanya memberikan warna yang lebih lembut, sedikit kusam, dan cenderung memudar secara alami setelah melalui proses pengukusan atau perebusan yang lama.

Terkait fenomena ini, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM, Ema Setyawati, dalam berbagai kesempatan edukasi publik menegaskan bahwa masyarakat harus menjadi konsumen yang cerdas dengan melakukan Cek KLIK (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa). Beliau mengingatkan bahwa pewarna tekstil seperti Rhodamin B jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan organ hingga kanker, sehingga pengamatan fisik pada takjil yang dijual bebas menjadi benteng pertahanan pertama keluarga. Senada dengan hal tersebut, ahli gizi juga menekankan bahwa pangan yang aman tidak seharusnya memberikan sensasi rasa getir yang mengganggu di pangkal lidah.

Read More  Sanitasi Layak untuk Anak Sekolah: 12 Lokasi Terpilih Dapat Sumur dan Fasilitas Baru

Selain dari aspek visual, aroma dan rasa juga menjadi indikator penting dalam mendeteksi keamanan takjil; pewarna alami umumnya membawa aroma khas dari tumbuhan asalnya yang segar, sementara pewarna kimia sering kali tidak memiliki aroma tertentu atau justru tercium bau zat kimia yang aneh serta meninggalkan rasa getir atau pahit di pangkal lidah.

Dalam memilih takjil, sangat disarankan untuk tidak hanya tergiur oleh harga murah atau warna yang cerah semata, melainkan pilihlah pedagang yang memiliki reputasi bersih atau lebih baik lagi jika Anda meluangkan waktu untuk mengolah menu berbuka sendiri di rumah menggunakan bahan-bahan alami yang terjamin kualitasnya.

Ketelitian dalam memilah apa yang masuk ke dalam tubuh saat membatalkan puasa sangatlah penting, karena kesehatan pencernaan dan stamina Anda selama menjalankan ibadah sebulan penuh sangat bergantung pada kualitas nutrisi dan keamanan bahan pangan yang Anda pilih setiap harinya.

Back to top button