Safe and SecureUpdate News

Darurat Sampah Makanan! Indonesia Buang Pangan Setara untuk Memberi Makan 125 Juta Orang

Indonesia menghadapi persoalan sampah makanan, jumlahnya setara dengan kebutuhan pangan 125 juta orang

Indonesia masih menghadapi masalah besar terkait food loss and waste atau kehilangan dan pemborosan pangan. Kondisi ini menjadi sorotan setelah Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, mengungkapkan bahwa sampah makanan di Indonesia mencapai 115 hingga 184 kilogram per kapita setiap tahun.

Menurut Arif, upaya meningkatkan ketahanan pangan tidak selalu harus dilakukan dengan menaikkan produksi. Pengurangan sampah makanan justru dapat menjadi solusi yang lebih cepat dan efisien untuk menambah ketersediaan pangan nasional. Ia menyebut sebagian besar pangan yang terbuang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan baik.

Besarnya volume makanan yang terbuang itu memiliki dampak yang sangat besar. Jika food loss and waste berhasil ditekan secara signifikan, Indonesia berpotensi menyediakan pangan yang cukup untuk sekitar 61 juta hingga 125 juta orang. Selain itu, pengurangan sampah makanan juga dapat menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mengurangi kerugian ekonomi yang nilainya diperkirakan mencapai Rp200 triliun hingga Rp500 triliun.

Sampah Terjadi Sejak Masa Panen

Masalah kehilangan pangan ternyata tidak hanya terjadi di tingkat konsumen. Berdasarkan paparan BRIN, sekitar 11 persen hasil produksi pangan sudah hilang sejak tahap panen. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan metode panen tradisional yang masih dominan di berbagai daerah. Akibatnya, sebagian hasil pertanian rusak atau tidak dapat dimanfaatkan sebelum sampai ke tangan konsumen.

Fenomena ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat sampah makanan tertinggi di kawasan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional sebelumnya mencatat sisa makanan menjadi komponen terbesar dalam timbulan sampah nasional, bahkan melampaui sampah plastik. Kerugian ekonominya diperkirakan mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun.

Read More  PLN Siap Terangi 780 Ribu Rumah dalam Program Listrik Desa

Selain kerugian ekonomi, sampah makanan juga memperburuk perubahan iklim. Ketika sisa makanan membusuk di tempat pembuangan akhir, proses tersebut menghasilkan gas metana yang memiliki efek pemanasan global jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Berbagai studi memperkirakan limbah makanan menyumbang sekitar 8 persen emisi gas rumah kaca dunia.

Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Para ahli menilai pengurangan sampah makanan harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Langkah sederhana seperti mengambil makanan secukupnya, menyusun rencana belanja yang lebih baik, menyimpan bahan pangan dengan benar, serta memanfaatkan kembali makanan yang masih layak konsumsi dapat memberikan dampak besar jika dilakukan secara massal.

Di tingkat industri dan pemerintah, perbaikan rantai pasok pangan, modernisasi proses panen, peningkatan fasilitas penyimpanan, hingga pengembangan sistem redistribusi pangan menjadi langkah penting untuk menekan kehilangan pangan sejak awal produksi.

Dengan jumlah makanan terbuang yang setara kebutuhan pangan hingga 125 juta orang, persoalan sampah makanan bukan lagi sekadar isu lingkungan. Masalah ini telah menjadi tantangan strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan, ekonomi nasional, dan keberlanjutan masa depan Indonesia.

Back to top button