Utang PayLater Terus Meningkat, Masyarakat Indonesia Mulai Hidup Dari Utang ?
Sebanyak 93 persen penggunaan paylater digunakan untuk konsumsi. Fenomena ini menjadi sinyal yang perlu diwaspadai terkait tekanan daya beli dan kesehatan keuangan rumah tangga.
Penggunaan paylater yang didominasi untuk kebutuhan konsumsi memunculkan sinyal bahwa sebagian masyarakat mulai semakin bergantung pada utang jangka pendek untuk mempertahankan daya beli di tengah tekanan ekonomi.
Data terbaru menunjukkan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater tidak lagi sekadar digunakan untuk membeli gawai maupun produk elektronik, tetapi semakin banyak dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan konsumsi sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan telah terjadi pergeseran perilaku masyarakat dalam mengelola keuangan di tengah tekanan ekonomi yang masih berlangsung.
Sebanyak 93 persen penggunaan paylater saat ini digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Bahkan, sejumlah pelaku industri mengungkapkan bahwa transaksi kebutuhan pokok seperti sembako mulai banyak dilakukan menggunakan layanan paylater. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika paylater lebih identik dengan pembelian produk gaya hidup maupun barang elektronik.
Peningkatan penggunaan paylater juga terlihat dari data perbankan nasional. Per Mei 2026, baki debet kredit paylater perbankan tumbuh signifikan dan jumlah penggunanya terus meningkat. Di sisi lain, outstanding pinjaman online juga masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Pertumbuhan utang digital yang terjadi secara bersamaan tersebut menunjukkan semakin besarnya pemanfaatan pembiayaan jangka pendek oleh masyarakat.
Sinyal Daya Beli Sedang Tertekan
Meningkatnya penggunaan paylater untuk konsumsi tidak serta-merta berarti seluruh masyarakat Indonesia hidup dari utang. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu indikator adanya tekanan terhadap daya beli sebagian rumah tangga.
Ketika penghasilan tidak tumbuh secepat kenaikan biaya hidup, masyarakat cenderung mencari sumber pembiayaan jangka pendek untuk mempertahankan tingkat konsumsinya. Dalam situasi seperti ini, paylater menjadi salah satu alternatif yang paling mudah diakses karena proses pengajuannya relatif cepat dan praktis.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, sebelumnya mengingatkan bahwa daya beli masyarakat perlu terus dijaga karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, penguatan pendapatan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja yang produktif menjadi salah satu kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi rumah tangga.
Pandangan tersebut menjadi relevan untuk membaca fenomena meningkatnya penggunaan paylater saat ini. Apabila utang mulai digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi secara terus-menerus, kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa sebagian rumah tangga mulai membutuhkan tambahan likuiditas untuk memenuhi pengeluaran bulanannya.
Jangan Sampai Terjebak Utang Konsumtif
Kemudahan menggunakan paylater sering kali membuat penggunanya tidak menyadari besarnya pengeluaran yang telah dilakukan. Proses transaksi yang hanya membutuhkan beberapa kali sentuhan pada telepon genggam dapat membuat seseorang memiliki beberapa cicilan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Paylater pada dasarnya merupakan salah satu instrumen pembiayaan yang sah dan dapat membantu masyarakat apabila digunakan secara bijak dan terukur. Permasalahan muncul ketika utang digunakan secara terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan rutin bulanan.
Apabila cicilan bulanan sudah mulai mengganggu kebutuhan pokok, pembayaran tagihan lainnya, maupun kemampuan menabung, hal tersebut menjadi tanda bahwa kondisi keuangan perlu segera dievaluasi. Paylater juga sebaiknya tidak digunakan untuk menutup cicilan paylater lainnya maupun membayar pinjaman yang telah jatuh tempo karena berpotensi menimbulkan siklus gali lubang tutup lubang.
Masyarakat juga perlu membedakan antara utang produktif dan utang konsumtif. Utang produktif digunakan untuk menghasilkan nilai ekonomi di masa depan, sedangkan utang konsumtif umumnya habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa menghasilkan tambahan pendapatan.
Alarm yang Perlu Diwaspadai
Peningkatan penggunaan paylater sesungguhnya tidak selalu menjadi kabar buruk karena menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital. Namun, ketika sebagian besar penggunaannya justru untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari, kondisi tersebut patut menjadi alarm yang perlu diwaspadai.
Apabila masyarakat mulai mengandalkan utang untuk memenuhi kebutuhan pokok secara terus-menerus, hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa sebagian rumah tangga sedang mengalami tekanan daya beli. Kondisi ini tentu tidak berlaku bagi seluruh masyarakat Indonesia, tetapi menjadi sinyal yang perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.
Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting di tengah kemudahan akses pembiayaan digital saat ini. Paylater seharusnya menjadi alat bantu keuangan yang digunakan secara bijak, bukan menjadi penopang utama untuk mempertahankan gaya hidup maupun memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pada akhirnya, yang perlu dijaga bukan sekadar kemampuan untuk berutang, melainkan kemampuan untuk membayar dan menjaga kesehatan keuangan keluarga dalam jangka panjang.





