Karhutla Kembali Kepung Sejumlah Wilayah, Kabut Asap Bisa Diam-Diam Mengancam Jantung
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menimbulkan kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia, dan paparan asap tidak hanya mengganggu pernapasan tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan jantung
Karhutla kembali menjadi perhatian seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pada Selasa (25/8/2026), kabut asap tebal dilaporkan menyelimuti sejumlah kawasan Pekanbaru hingga Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, bahkan membuat jarak pandang pengendara terbatas.
Kondisi tersebut terjadi ketika penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah daerah. Data Kementerian Kesehatan per 21 Agustus 2026 mencatat lebih dari 3 juta orang di 37 kabupaten/kota telah terpapar langsung kabut asap karhutla yang melanda tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Persoalannya, kabut asap sering kali dianggap hanya sebagai gangguan sementara yang menyebabkan mata perih atau batuk. Padahal, partikel dan berbagai polutan yang terkandung dalam asap kebakaran dapat masuk jauh ke dalam tubuh dan menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius.
Bukan Hanya Paru-Paru, Jantung Juga Bisa Terdampak
Kabut asap karhutla mengandung berbagai polutan, salah satunya particulate matter (PM2.5) yang berukuran sangat kecil. Karena ukurannya kurang dari 2,5 mikrometer, partikel tersebut dapat menembus jauh ke dalam sistem pernapasan hingga mencapai alveolus atau kantung udara di paru-paru.
Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof Dr dr Syamsul Arifin, mengingatkan bahwa kabut asap tidak seharusnya dianggap sebagai bencana biasa. Ia menyebut berbagai penelitian menunjukkan kunjungan ke rumah sakit dapat meningkat hingga 40 persen ketika kabut asap melanda, terutama akibat gangguan pernapasan dan penyakit jantung.
Partikel PM2.5 yang sangat kecil juga dapat melewati penghalang paru dan masuk ke sirkulasi darah. Kondisi tersebut dapat memicu peradangan dan perubahan pada sistem pembuluh darah sehingga paparan polusi udara berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.
Inilah alasan kabut asap disebut dapat menjadi âpembunuh diam-diamâ. Seseorang mungkin tidak langsung merasakan gangguan serius ketika menghirup udara tercemar, tetapi paparan polutan tetap dapat memberikan tekanan terhadap sistem pernapasan dan kardiovaskular.
Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan oleh orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau gangguan pembuluh darah. Kelompok lain yang juga lebih rentan antara lain bayi dan balita, ibu hamil, penderita asma, serta orang dengan penyakit paru.
Dampak paling mudah terlihat memang biasanya berupa batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, sesak napas, atau iritasi. Namun, ketika paparan berlangsung terus-menerus dan konsentrasi polutan tinggi, dampaknya dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih berat.
Di Kalimantan Tengah, misalnya, kasus ISPA dilaporkan meningkat dari 402 menjadi 716 kasus hanya dalam satu pekan atau naik sekitar 78,1 persen. Kalimantan Barat juga mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026, dengan lonjakan tinggi dilaporkan di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.
Jangan Tunggu Sesak, Lindungi Diri dari Paparan Asap
Menghadapi kabut asap, masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai muncul gangguan kesehatan untuk mulai melakukan perlindungan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan menjadi salah satu langkah penting, terutama ketika kualitas udara sedang buruk atau kabut asap terlihat semakin pekat.
Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel halus, seperti N95 atau KN95, dapat membantu mengurangi paparan PM2.5. Masker harus digunakan dengan posisi yang tepat dan menutup hidung serta mulut secara rapat agar perlindungannya lebih optimal.
Aktivitas fisik di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika udara dipenuhi asap. Saat seseorang berolahraga atau melakukan aktivitas berat, frekuensi dan kedalaman napas meningkat sehingga lebih banyak udara, termasuk partikel polutan, yang masuk ke paru-paru.
Masyarakat juga dapat menutup pintu dan jendela ketika kualitas udara luar memburuk. Langkah tersebut membantu mengurangi masuknya asap ke dalam rumah, terutama ketika kondisi di luar sudah terlihat sangat berkabut atau berbau asap.
Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh. Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, pusing mendadak, atau keluhan lain yang terasa berat, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Keluhan tersebut tidak sebaiknya dianggap sekadar efek biasa dari kabut asap karena dapat menjadi tanda gangguan yang membutuhkan penanganan.
Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan pemerintah daerah. Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat atau berbahaya, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok rentan.
Karhutla dengan demikian bukan hanya persoalan lingkungan atau bencana yang membuat langit berubah menjadi kelabu. Asap yang dihasilkan juga merupakan persoalan kesehatan masyarakat karena membawa partikel dan gas yang dapat mengganggu paru-paru sekaligus sistem kardiovaskular.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya memadamkan api setelah kebakaran meluas. Pencegahan kebakaran, pengawasan kawasan rawan, penegakan hukum terhadap pembakar lahan, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan.
Kabut asap mungkin terlihat seperti sesuatu yang perlahan menghilang ketika hujan turun atau api berhasil dipadamkan. Namun, dampak paparan terhadap tubuh tidak selalu berhenti pada saat pandangan kembali jernih.





