Mengejutkan, 70 Juta Warga Indonesia Diperkirakan Mengidap Penyakit Hati Kronis
Sekitar 70 juta penduduk Indonesia diperkirakan mengalami penyakit hati kronis, namun banyak di antaranya tidak menyadari
Penyakit hati kronis menjadi ancaman kesehatan yang sering luput dari perhatian masyarakat. Berbeda dengan penyakit yang menimbulkan keluhan jelas sejak awal, gangguan hati umumnya berkembang secara perlahan dan baru terdeteksi ketika telah memasuki stadium lanjut seperti sirosis atau bahkan kanker hati.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 70 juta penduduk Indonesia diperkirakan mengalami penyakit hati kronis. Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan hati merupakan salah satu tantangan besar yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Menurut Menkes, banyak masyarakat merasa sehat sehingga tidak merasa perlu menjalani pemeriksaan kesehatan. Padahal, penyakit hati kronis sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal dan baru diketahui setelah kerusakan hati sudah cukup berat.
Secara global, penyakit hati kronis menyebabkan sekitar dua juta kematian setiap tahun. Lebih dari separuh kasus tersebut berkaitan dengan infeksi hepatitis B dan hepatitis C yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani dengan baik.
Mengapa Banyak Penderita Tidak Menyadarinya?
Hati merupakan organ vital yang memiliki kemampuan regenerasi cukup tinggi. Karena itu, kerusakan yang terjadi sering tidak langsung menimbulkan gejala. Banyak penderita tetap dapat beraktivitas normal meski fungsi hatinya mulai menurun.
Gejala biasanya baru muncul ketika kerusakan sudah cukup parah, seperti mudah lelah, kulit dan mata menguning, perut membesar akibat penumpukan cairan, pembengkakan kaki, hingga gangguan kesadaran akibat komplikasi penyakit hati lanjut.
Kondisi inilah yang membuat penyakit hati kerap dijuluki sebagai “silent disease” atau penyakit yang diam-diam berkembang tanpa disadari penderitanya.
Gaya Hidup Modern Ikut Meningkatkan Risiko
Selain infeksi hepatitis, meningkatnya kasus penyakit hati kronis juga dikaitkan dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Pola makan tinggi gula dan lemak, obesitas, diabetes, konsumsi alkohol berlebihan, serta kurang aktivitas fisik dapat memicu penumpukan lemak di hati yang berkembang menjadi peradangan dan kerusakan hati kronis.
Dalam beberapa tahun terakhir, kasus penyakit hati berlemak atau fatty liver juga menjadi perhatian karena banyak ditemukan pada kelompok usia produktif yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit hati. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga memerlukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksinya lebih awal.
Pentingnya Deteksi Dini
Kementerian Kesehatan menilai deteksi dini menjadi kunci untuk menekan beban penyakit hati kronis di Indonesia. Namun saat ini cakupan skrining hepatitis nasional masih sekitar 10 persen, jauh di bawah target yang diharapkan.
Karena itu masyarakat diimbau memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan dan skrining yang tersedia, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat hepatitis, diabetes, obesitas, atau anggota keluarga dengan penyakit hati.
Para ahli menegaskan bahwa sebagian besar komplikasi berat penyakit hati dapat dicegah apabila gangguan fungsi hati ditemukan lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.



