Cara Mengelola THR agar Tidak Habis untuk Belanja Konsumtif, Ini Strategi Bijaknya
Tunjangan Hari Raya (THR) kerap habis tanpa terasa karena belanja impulsif, padahal dengan strategi sederhana dana ini bisa menjadi penguat kondisi keuangan jangka panjang.
Momen pencairan THR identik dengan euforia belanja, promo besar-besaran, hingga kebutuhan mudik dan berbagi hampers. Tak sedikit orang baru menyadari uangnya menipis setelah Lebaran usai. Padahal, jika dikelola dengan bijak, THR bisa menjadi momentum memperbaiki fondasi finansial.
Perencana keuangan sekaligus CEO QM Financial, Ligwina Hananto, dalam berbagai kesempatan literasi keuangan menekankan pentingnya membuat rencana sebelum membelanjakan bonus tahunan. Ia kerap mengingatkan bahwa dana seperti THR sebaiknya langsung dibagi sesuai tujuan. “Kalau tidak direncanakan, uang cenderung habis untuk hal-hal yang tidak prioritas,” ujarnya dalam sejumlah seminar edukasi finansial.
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah langsung memisahkan dana begitu THR diterima. Pisahkan ke dalam beberapa pos, baik melalui rekening berbeda maupun pembagian digital di dompet elektronik. Cara ini efektif mencegah dana tercampur dengan kebutuhan harian yang berpotensi menggerus anggaran tanpa disadari.
Agar lebih terarah, gunakan formula pembagian sederhana. Misalnya 40 persen untuk kebutuhan Lebaran seperti zakat, sedekah, mudik, dan belanja pokok; 30 persen untuk tabungan atau investasi; 20 persen untuk dana darurat atau membayar cicilan; serta 10 persen untuk self reward. Persentase tersebut fleksibel sesuai kondisi masing-masing, namun prinsip utamanya adalah tidak menghabiskan seluruh THR untuk konsumsi.
Perencana keuangan dari Finansialku, Melvin Mumpuni, juga sering mengingatkan pentingnya memperkuat dana darurat sebelum meningkatkan gaya hidup. Dalam berbagai edukasi publik, ia menyebut dana darurat idealnya setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin agar keluarga tetap aman menghadapi situasi tak terduga.
Selain itu, sebagian THR dapat dialokasikan untuk investasi seperti reksa dana pasar uang, emas digital, maupun saham berfundamental baik. Tambahan investasi rutin setiap tahun dapat memberikan efek compounding yang signifikan dalam jangka panjang.
Meski demikian, bukan berarti THR tidak boleh dinikmati. Self reward tetap penting sebagai bentuk apresiasi diri, selama porsinya terukur dan tidak mengganggu rencana keuangan utama. Kunci utamanya adalah disiplin dan perencanaan sejak awal, bukan mengatur sisa setelah belanja.
Pada akhirnya, THR sebaiknya dipandang sebagai kesempatan memperkuat fondasi finansial. Dengan strategi yang tepat, dana ini tidak hanya habis dalam euforia sesaat, tetapi menjadi langkah awal menuju kondisi keuangan yang lebih stabil dan terencana.





