Keseringan Main Gadget, Anak Berisiko Alami “Virtual Autism”
Penggunaan gadget berlebihan pada anak disebut dapat memicu gejala mirip autisme atau yang dikenal sebagai virtual autism.
Penggunaan gadget pada anak usia dini kembali menjadi sorotan. Paparan layar yang terlalu sering dan tanpa pendampingan disebut berisiko memicu kondisi yang dikenal sebagai virtual autism, yakni gejala menyerupai autisme akibat kurangnya interaksi sosial.
Fenomena ini terjadi ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Akibatnya, perkembangan kemampuan komunikasi, bahasa, hingga interaksi sosial menjadi terganggu.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak di FK-KMK UGM/RS Sardjito, Mei Neni Sitaresmi, menjelaskan bahwa gejala virtual autism memang sekilas menyerupai autisme, terutama dalam hal interaksi sosial dan komunikasi anak.
“Autis itu prinsipnya gangguannya pada interaksi sosial, komunikasi, berbagi, bermain peran yang tidak ada pada anak. Kalau virtual autism ini dipicu oleh penggunaan gawai berlebih,” jelas Prof. Mei.
Ia menegaskan bahwa perbedaan utama antara autisme dan virtual autism terletak pada penyebabnya. Jika autisme merupakan gangguan perkembangan, maka virtual autism lebih dipicu oleh faktor lingkungan, khususnya paparan gadget yang berlebihan.
Para ahli menjelaskan bahwa anak usia dini sangat membutuhkan stimulasi berupa komunikasi dua arah, kontak mata, serta respons sosial secara langsung. Ketika kebutuhan tersebut tergantikan oleh gadget, anak berpotensi mengalami keterlambatan perkembangan.
Istilah virtual autism sendiri bukan diagnosis medis resmi seperti Autism Spectrum Disorder, melainkan kondisi yang menggambarkan dampak perilaku akibat paparan layar berlebihan. Gejalanya bisa menyerupai autisme, seperti kurang responsif, sulit fokus, hingga minim interaksi sosial.
Menurut para pakar, kondisi ini sebenarnya dapat dicegah jika penggunaan gadget dibatasi dan disertai pendampingan orang tua. Anak tetap membutuhkan interaksi nyata sebagai fondasi utama tumbuh kembang.
Fenomena kecanduan gadget pada anak juga telah menjadi perhatian banyak pihak. Paparan teknologi yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari gangguan emosi, kesulitan fokus, hingga hambatan dalam kemampuan sosial anak.
Karena itu, para ahli menyarankan orang tua untuk membatasi durasi penggunaan gadget serta meningkatkan interaksi langsung dengan anak, seperti bermain, membaca, dan berbicara secara aktif.
Selain itu, penggunaan fitur kontrol orang tua (parental control) juga dapat membantu mengatur akses dan waktu penggunaan perangkat digital.
Dengan pengawasan yang tepat, gadget tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi. Namun tanpa kontrol, dampaknya terhadap perkembangan anak bisa menjadi serius, bahkan memicu kondisi yang menyerupai gangguan perkembangan.



