Survei: 29% Gen Z Minta Bantuan Orang Tua Saat Negosiasi Gaji, Tanda Kurang Percaya Diri?
Sebanyak 29 persen Gen Z dilaporkan masih melibatkan orang tua dalam proses negosiasi gaji saat melamar kerja.
Fenomena keterlibatan orang tua dalam dunia kerja anak muda semakin mencuat. Survei terbaru menunjukkan sekitar 29 persen generasi Z (Gen Z) meminta bantuan orang tua saat melakukan negosiasi gaji dengan perusahaan.
Fenomena ini tergambar dalam survei platform karier Zety yang menunjukkan 29 persen Gen Z melibatkan orang tua dalam negosiasi gaji pertama mereka. Angka ini memberi sinyal bahwa proses masuk dunia kerja kini tidak selalu berjalan secara individual, melainkan kerap menjadi bagian dari dukungan keluarga.
Temuan ini menambah gambaran bahwa peran keluarga dalam perjalanan karier anak muda masih sangat kuat, bahkan hingga tahap yang seharusnya bersifat profesional. Dalam beberapa kasus, orang tua tidak hanya memberi saran, tetapi juga ikut terlibat langsung dalam proses komunikasi dengan perusahaan.
Fenomena ini bukan berdiri sendiri. Data lain menunjukkan keterlibatan orang tua dalam proses rekrutmen Gen Z cukup tinggi, mulai dari membantu melamar pekerjaan hingga ikut dalam wawancara dan negosiasi. Dalam sejumlah kasus, kehadiran orang tua bahkan bisa memengaruhi penilaian perusahaan terhadap kesiapan kandidat.
Di sisi lain, data survei Zety juga menunjukkan bahwa tidak menegosiasikan gaji awal dapat mengurangi potensi pendapatan hingga 1 juta dollar AS hingga 1,5 juta dollar AS sepanjang karier. Angka ini setara sekitar Rp 17,14 miliar hingga Rp 25,71 miliar (dengan asumsi kurs Rp 17.140 per dollar AS). Hal ini terjadi karena gaji pertama menjadi dasar bagi kenaikan gaji berikutnya, bonus, hingga perhitungan manfaat jangka panjang. Meski demikian, praktik negosiasi gaji masih belum menjadi kebiasaan di kalangan pekerja muda.
Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya adalah tekanan ekonomi dan ketatnya persaingan kerja. Banyak Gen Z merasa gaji awal yang ditawarkan belum cukup memenuhi kebutuhan hidup, sehingga membutuhkan dukungan orang tua dalam mengambil keputusan penting.
Selain faktor ekonomi, kurangnya pengalaman dan kepercayaan diri juga menjadi penyebab utama. Generasi ini tumbuh di era digital dengan interaksi tatap muka yang lebih terbatas, sehingga proses negosiasi langsung sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Di sisi lain, pola asuh orang tua juga berperan. Banyak orang tua masa kini lebih aktif terlibat dalam kehidupan anak, termasuk dalam urusan karier. Niat awalnya adalah memberikan dukungan, namun jika berlebihan justru dapat menghambat kemandirian profesional.
Bagi perusahaan, keterlibatan orang tua dalam negosiasi gaji kerap dianggap sebagai sinyal bahwa kandidat belum sepenuhnya siap menghadapi dunia kerja secara mandiri. Hal ini bisa memengaruhi penilaian terhadap kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, hingga kesiapan menghadapi tekanan kerja.
Meski demikian, fenomena ini juga mencerminkan perubahan lanskap dunia kerja. Generasi muda kini menghadapi tantangan yang berbeda, mulai dari biaya hidup tinggi hingga ketidakpastian ekonomi, yang membuat mereka lebih bergantung pada sistem dukungan keluarga.
Para pakar menyarankan agar orang tua tetap berperan sebagai mentor di belakang layar, bukan sebagai perwakilan dalam proses profesional. Sementara itu, Gen Z didorong untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, negosiasi, dan kepercayaan diri agar lebih siap bersaing di dunia kerja.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa transisi menuju kemandirian finansial tidak selalu mudah. Namun, keberanian untuk mengambil peran sendiri dalam karier tetap menjadi kunci untuk berkembang di dunia profesional.





